Masyarakat Indonesia memiliki sejumlah tradisi yang dilakukan saat merayakan hari-hari besar Islam, salah satunya Isra Mi’raj. Apa saja ya?
Seluruh umat Islam di Indonesia akan memperingati hari Isra Miraj yang jatuh pada hari Jumat (16/1/2026). Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia.
Selain diperingati sebagai peristiwa besar dalam sejarah Islam, Isra Miraj juga dirayakan melalui berbagai tradisi yang berkembang di tengah masyarakat. Setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk memaknai peristiwa ini, dengan tetap mengedepankan nilai religius dan kebersamaan.
Berikut sejumlah tradisi yang dilakukan umat Islam di Indonesia saat memperingati Isra Mi’raj.
Tradisi Memperingati Isra Mi’raj di Indonesia
Merangkum informasi dari CNBC Indonesia, Kamis (15/1), berikut tradisi memperingati Isra Miraj di Indonesia:
1. Pawai Obor, Bandung
Pawai obor merupakan tradisi yang kental dengan sebuah perayaan untuk memperingati hari besar dalam Islam. Salah satunya ketika umat Islam memperingati Isra Mi’raj.
Pawai Obor menjadi tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di Taman Tegalega, Bandung, Jawa Barat untuk merayakan hari besar tersebut.
Tradisi ini biasanya dilakukan di malam hari, masyarakat akan menyalakan obor sambil melakukan pawai melewati beberapa titik dengan rute tertentu dan menyerukan sholawat nabi.
2. Rajaban, Cirebon
Tradisi Rajaban merupakan tradisi memperingati Isra Mi’raj yang dilakukan oleh masyarakat di Cirebon, Jawa Barat. Biasanya masyarakat akan menggelar pengajian dan doa bersama di Masjid atau sebagainya.
Acara Rajaban di Cirebon selalu berkaitan dengan botram. Melansir detikJabar, Kamis (15/1), botram sendiri merupakan acara makan bersama yang digelar setelah acara pengajian di halaman masjid atau balai kampung.
Dalam acara tersebut masyarakat akan membawa makanan masing-masing yang kemudian disajikan untuk disantap bersama-sama.
3. Nyadran, Semarang
Nyadran merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Semarang untuk memperingati hari besar umat Islam, salah satunya Isra Mi’raj.
Biasanya ketika melakukan Nyadran masyarakat mengenakan pakaian khusus, yakni pakaian adat Jawa dan menggunakan caping.
Masyarakat melakukan Nyadran dengan berkeliling kampung membawa replika burung siwarak yang dibuat dari buah-buahan dan sayur-sayuran.
Kirab tersebut juga diiringi dengan musik tradisional seperti lesung dan thek-thek yang semakin membuat suasana meriah.
4. Ambengan, Magelang
Ambengan merupakan tradisi sederhana yang dilestarikan masyarakat Magelang dan selalu dilakukan saat memperingati hari besar seperti Isra Mi’raj.
Ambengan dilakukan dengan berbagi atau bertukar makanan satu sama lain. Tradisi ini bertujuan untuk mengajarkan nikmat berbagi dan bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberi oleh Allah SWT.
5. Khataman Kitab Arjo, Temanggung
Sedikit berbeda dengan tradisi lain, masyarakat Temanggung di Jawa Tengah menjalankan tradisi Khataman Kitab Arjo dalam memperingati Isra Miraj.
Tradisi adalah sebuah kegiatan membaca Kitab Arjo, yaitu kitab berbahasa Jawa dengan tulisan Arab pegon karangan KH Ahmad Rifai al-Jawi. Kitab tersebut secara detail berisi tentang cerita perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
6. Rejeban Peksi Buraq, Yogyakarta
Rejeban Peksi Buraq merupakan tradisi memperingati Isra Mi’raj yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta. Kegiatan Rejaban Peksi Buraq biasanya dilakukan masyarakat dengan membuat replika dua burung Buraq yang dikendarai Nabi Muhammad SAW sebagai kendaraan saat melakukan Isra Miraj.
Replika burung Buraq ini terbuat dari kulit jeruk bali yang kemudian diletakkan di atas pogon buah dan diarak berkeliling dari Keraton Masjid Gede Kauman.
Menariknya, replika burung tersebut nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat yang melihat sebagai simbol keberkahan. Tradisi ini menggabungkan unsur Islam, Jawa, dan Hindu.
7. Nganggung, Bangka Belitung
Mirip dengan Ambengan, Nganggung merupakan tradisi membawa makanan dari rumah masing-masing untuk dimakan bersama. Tradisi ini selalu dilakukan di hari-hari besar Islam, termasuk Isra Mi’raj. Sebelum acara makan tiba, biasanya Nganggung didahului oleh doa-doa maupun ceramah agama.
Tradisi ini lahir dan dilestarikan oleh masyarakat Melayu di Bangka Belitung terutama masyarakat Pulau Bangka.
Tradisi Nganggung dilakukan sebagai bentuk kekeluargaan yang kokoh di antara masyarakat Melayu untuk mempererat silaturahmi antar sesama.






