Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Bobby Rasyidin, memaparkan rencana transformasi sistem kereta api nasional menuju ekosistem berbasis kecerdasan buatan (AI). Transformasi itu mencakup otomatisasi operasi, peningkatan keselamatan, dan modernisasi layanan.
Bobby membuka presentasinya dengan cerita masa kecilnya di Bandung, ketika antrean tiket panjang memaksa penumpang “main kucing-kucingan” dengan kondektur.
Dia menekankan bahwa sistem saat ini, seperti aplikasi Access by KAI, masih terbatas. Dia pun menyampaikan visi untuk mengembangkan AI yang mampu berperan sebagai asisten perjalanan pribadi.
Bobby menjelaskan tiga tahap pengembangan aplikasi Access by KAI, yakni penyempurnaan (memperbaiki bug dan mengurangi isu timeout), kemudian advising (AI mulai memberikan saran proaktif, misalnya menawarkan opsi perjalanan saat long weekend), serta agentic AI (AI bertindak sebagai asisten pribadi, mengatur seluruh itinerary penumpang secara otomatis).
Selain layanan, KAI menargetkan Zero Accident pada 2026 dengan penerapan teknologi situational awareness. Sistem itu memanfaatkan GPS, geotag, dan sensor untuk mendeteksi kendaraan atau benda diam di perlintasan kereta, memberikan peringatan dini, dan memungkinkan otomasi pengaturan perjalanan.
“Caranya bagaimana? Simpel. Saya orang teknik, sebelumnya saya di pertahanan. Jadi ngurusin rudal, sekarang ngurusin kereta. Kan gitu, lebih gampang lah,” kata dia.
Bobby menjelaskan bahwa untuk lebih dulu membangun situational awareness-nya.
“Bagaimana situational awareness-nya? Gampang juga. Ada geotag, tahu geotag kan? Ada geotag, kemudian ada GPS yang mendekat, kan dia bisa ngitung kecepatannya, dia bisa, bisa menghitung trajektorinya,” kata Bobby.
“Dia bisa melihat banyak sensor-sensor yang digunakan untuk mendeteksi benda diam juga. Ini kan bisa berkomunikasi. Maka, kita nanti akan bikin dulu situational awareness-nya. Setelah itu baru aktuatornya yang kita bikin. Itu sedang kita kerjakan. Nanti kita launching tuh,” ujar dia.
Bobby membandingkan penggunaan transportasi publik di Jabodetabek, baru 2,5%, dengan Singapura (80%) dan menyoroti capaian China dalam pembangunan rel kecepatan tinggi dan logistik.
Dia menegaskan bahwa modernisasi layanan (hilir) harus diikuti penguatan industri manufaktur (hulu), seperti PT INKA, agar ekosistem perkeretaapian Indonesia lebih mandiri.
Saat ini, KAI mempekerjakan hampir 70.000 orang, dan transformasi SDM menjadi bagian penting dari strategi. Bobby menekankan bahwa perubahan ini bukan sekadar menambah kereta, tetapi membangun sistem transportasi masa depan yang relevan dengan tantangan global.






