Banjir di wilayah Pekalongan membuat sejumlah perjalanan kereta api tertahan selama berjam-jam pada Sabtu (17/1/2026) hingga Minggu (18/1). Para penumpang mengapresiasi KAI yang telah memberikan kompensasi berupa makanan, minuman, dan camilan, tetapi ada catatan yang diberikan.
Situasi itu tak hanya berdampak pada jadwal keberangkatan dan waktu tempuh, tetapi juga pada kenyamanan penumpang. Di tengah kondisi tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan tetap memenuhi hak penumpang melalui pemberian kompensasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
KAI menyatakan penumpang yang perjalanannya dibatalkan akibat kondisi jalur yang tidak memungkinkan mendapatkan pengembalian dana tiket secara penuh atau refund 100 persen. Kebijakan itu diterapkan bagi penumpang yang keretanya tidak dapat diberangkatkan demi alasan keselamatan.
“Informasi pembatalan disampaikan H-1 jam dan saya sudah mendapat refund 100 persen setelah pembatalan diinformasikan. Posisi saat itu saya sudah di stasiun dan refund langsung diterima,” ujar Majidah salah satu penumpang Ambarawa Ekspress, dalam keterangan tertulis kepada detikTravel, Senin (19/1/2026).
Sementara itu, bagi penumpang yang perjalanannya harus tertahan selama berjam-jam di dalam kereta, KAI memberikan kompensasi berupa makanan dan minuman selama perjalanan berlangsung. Kompensasi ini diberikan untuk menjaga kondisi dan kenyamanan penumpang selama menunggu perjalanan kembali berjalan normal.
Rizkha, penumpang Kereta Airlangga rute Stasiun Semarang Poncol-Stasiun Pasar Senen, mengeluhkan lambannya pemberian informasi dari KAI terkait situasi yang terjadi.
“Saya dapat informasi dari Instagram KAI kalo ada beberapa perjalanan dibatalkan dan terlambat, tapi nggak ada pengumuman langsung dari KAI-nya. Sebenarnya nggak masalah, tapi nggak semua orang main media sosial, apalagi orang tua. Harusnya KAI kasih imbauan ke penumpang biar bisa lebih siap siaga,” kata Rizkha dalam keterangan tertulis kepada detikTravel, Senin (19/1).
Rizkha mengaku perjalanannya dari Semarang-Jakarta yang biasanya ditempuh selama 7 jam 20 menit, akhirnya tertahan selama berjam-jam di sejumlah titik.
“Biasanya 7 jam udah sampai, sedangkan ini hampir 17 jam dalam kereta, udah kayak hilang akal. Pegal, bosan, pusing jadi satu,” kata dia.
Keluhan lain juga muncul mulai dari fasilitas kereta yang tidak memadai, toilet yang tidak bisa digunakan, hingga kepastian terkait estimasi waktu tempuh yang tidak jelas. Akibatnya, penumpang sulit memperkirakan rencana lanjutan setelah tiba di stasiun tujuan.
Perjalanan panjang yang tidak sesuai jadwal memicu rasa cemas dan frustrasi, terlebih bagi penumpang yang memiliki agenda penting. Waktu yang terbuang selama berjam-jam dinilai menjadi kerugian tersendiri bagi penumpang.
“Apalagi buat penumpang yang mau kerja atau kuliah di hari Senin, ini berdampak banget. KAI juga nggak bisa kasih solusi selain disuruh nunggu,” kata Rizkha.
Pengalaman serupa juga disampaikan Istianah, penumpang Kereta Pandalungan rute Stasiun Jember-Stasiun Gambir. Dia mengatakan KAI cukup kooperatif dalam menjaga kenyamanan penumpang selama perjalanan.
“Kami (penumpang) beberapa kali diberi makanan dan snack oleh pihak KAI, walau waktu molornya lama banget, ya setidaknya KAI nggak lepas tanggung jawab,” kata dia.
Selama perjalanan berlangsung, Istianah menerima kompensasi sebanyak tiga kali, yaitu setelah perjalanan tertahan selama satu jam, KAI memberikan air mineral botol berukuran 330 ml, kemudian camilan wafer dan air mineral 600 ml, lalu kompensasi terakhir diterima penumpang sesaat setelah tiba di Stasiun Gambir.
Dia mengatakan KAI memberikan makanan berat berupa paket makanan cepat saji lengkap dengan air mineral.
“Kami dikasih kompensasi 3 kali. Pas stuck sejam sudah dikasih air minum, terus dikasih lagi snack dan air mineral 600 ml, terakhir saat sampai di Stasiun Gambir kami dikasih makanan berat CFC dan air mineral 600 ml,” kata dia.
Pemberian kompensasi tersebut dinilai membantu penumpang bertahan selama perjalanan yang berlangsung jauh lebih lama dari jadwal semula.
Meski demikian, penumpang berharap ke depan pihak KAI dapat memberikan informasi yang lebih jelas dan antisipasi yang lebih matang, terutama dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi mengganggu perjalanan kereta.






