Masalah pencernaan saat bepergian bisa menjadi mimpi buruk buat traveler, bahkan bisa-bisa mengacaukan liburan. Untuk menghindari kondisi itu, ada beberapa tipsnya dari para ahli.
Ahli gastroenterologi di Endeavor Health, Chicago, Andrew Moore, menekankan pentingnya mengenali gejala tubuh sebelum bepergian, terutama bagi yang memiliki kondisi kronis seperti penyakit Crohn atau sindrom iritasi usus besar.
“Perubahan rutinitas dan makanan baru bisa mengganggu pencernaan. Jadi, bawa obat untuk mual, sakit maag, diare, atau sembelit. Jika pergi ke wilayah berisiko penyakit seperti kolera atau demam tifoid, konsultasikan vaksinasi lebih awal,” kata Moore dilansir dari CNA, Selasa (20/1/2026).
Selain itu, riset tentang makanan lokal dan membawa camilan yang aman bisa membantu menjaga perut tetap nyaman.
Kemudian, kualitas air dan kebersihan makanan juga sangatlah krusial. Mantan direktur Water-to-Go, Paul Connolly, menyarankan botol penyaring untuk membunuh mikroba berbahaya. Air kemasan atau minuman panas seperti teh dan kopi lebih aman, sementara es sebaiknya dihindari.
CEO Stop Foodborne Illness, Sandra Eskin, mengingatkan agar traveler tidak lupa untuk selalu membuat makanan yang dibeli selalu dalam kualitas aman. Caranya, rebus terlebih dahulu, masak terlebih dahulu, kupas terlebih dahulu, atau tidak membelinya sama sekali, terutama untuk makanan jalanan.
Jika tetap sakit, jangan panik karena mayoritas diare wisatawan atau keracunan ringan sembuh dalam 1-2 hari. Tetap terhidrasi dan bila gejala parah muncul, segera cari pertolongan medis.
Kemudian, hal lain yang sering mengganggu pencernaan adalah mabuk perjalanan. Mantan pramugari Pan Am, Sara West, menyarankan tetap fokus pada cakrawala, hindari makanan berminyak atau minuman berkarbonasi, serta bernapas perlahan dan tarik udara segar bila memungkinkan.
Dengan langkah sederhana: kenali tubuh, pilih makanan dan minuman dengan bijak, serta siapkan obat-obatan, liburan tetap nyaman tanpa gangguan pencernaan.






