Pantai Indah Kapuk kembali menambah daftar destinasi wisata berbasis budaya. Kini, ada Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) di kawasan Pantjoran PIK.
Galeri itu menjadi ruang untuk menelusuri perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Nusantara, mulai dari kisah kedatangan, proses berbaur dengan budaya lokal, hingga kontribusinya dalam membentuk wajah Indonesia yang majemuk.
Perjalanan komunitas Tionghoa di Indonesia tak selalu berjalan mulus. Sejarah mencatat bagaimana identitas, bahasa, dan tradisi mereka pernah dibatasi.
Namun, di balik itu, komunitas ini terus bertahan dan tumbuh, meninggalkan jejak akulturasi yang kini terasa dekat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kuliner, seni, bahasa, hingga pola hidup masyarakat urban.
Narasi perjalanan tersebut dirangkum dalam GBTI sebagai ruang budaya yang tidak hanya memamerkan artefak, tetapi juga menghadirkan pengalaman. Galeri ini mengajak pengunjung memahami budaya sebagai sesuatu yang hidup terbentuk dari interaksi lintas generasi dan perjumpaan antar komunitas yang terus berlangsung hingga hari ini.
Di dalamnya, pengunjung diajak menjelajah tiga zona utama, yakni Ruang Kedatangan, Ruang Kesaksian, dan Ruang Keakraban. Masing-masing zona menawarkan sudut pandang berbeda tentang perjalanan identitas dan rasa kebersamaan, dengan cerita-cerita yang dekat dengan keseharian masyarakat, mulai dari pedagang, perajin, hingga tokoh publik.
Setelah melewati ketiga zona tersebut, pengunjung akan tiba di Temporary Exhibition Area, ruang pameran bergilir yang menghadirkan tema berbeda setiap enam bulan. Area ini dirancang sebagai ruang kolaborasi yang terbuka bagi komunitas dan individu kreatif, dengan pendekatan yang lebih kontemporer.
“Galeri Budaya China ini terdiri dari dua bagian. Ada pameran temporer, ada pameran permanen,” kata Evelyn Wang, tim kuratorial Galeri Budaya Tiongkok Indonesia, Jumat (23/1/2026).
Pameran perdana bertajuk “≠ / Tidak Sama Dengan” mengangkat tema keberagaman identitas yang terus berkembang. Sejumlah karya dari seniman seperti FX. Harsono, Edita Atmaja, Meliantha Muliawan, dan Yaya Sung ditampilkan untuk mengajak pengunjung melihat perbedaan sebagai ruang dialog, bukan sekat pemisah.
Melalui pameran, diskusi publik, dan berbagai program interaktif, GBTI menyuguhkan cara baru memahami sejarah bukan sebagai catatan kaku, melainkan sebagai pengalaman yang bisa dirasakan.
Pendekatan itu membuat galeri terasa relevan bagi pengunjung lintas usia, termasuk generasi muda yang ingin mengenal sejarah dengan cara yang lebih dekat.
Kehadiran GBTI juga sejalan dengan inisiatif PIK Berbudaya, yang sejak 2025 memperkenalkan kekayaan Nusantara melalui perpaduan sejarah, seni, kuliner, dan kreativitas kontemporer.
Dengan konsep itu, Pantjoran PIK tak lagi hanya dikenal sebagai destinasi kuliner, tetapi juga ruang wisata edukatif.
“Kita punya banyak sejarah yang mungkin dianggap gelap bagi komunitas Tionghoa dan lain-lain tapi kita perlu lihat bahwa bagaimana perang komunitas Tionghoa juga membantu Indonesia di raga bidang, peragangan, pendidikan, sampai bahkan sifatnya industri kreatif kemudian kebiayaan, sampai tradisi-tradisinya,” kata Bob Edrian, kurator Galeri Budaya Tionghoa Indonesia, Jumat (23/1/2026).
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Bagi wisatawan yang ingin menjelajah Jakarta dari sisi budaya, Galeri Budaya Tionghoa Indonesia bisa menjadi pilihan singgah yang menarik. Di ruang ini, pengunjung tidak hanya berjalan dari satu zona ke zona lain, tetapi juga diajak memahami bagaimana keberagaman tumbuh, dirawat, dan terus hidup dalam keseharian Indonesia.






