Benteng Kedung Cowek, Saksi Bisu Pertahanan Tepi Laut

Posted on

Kalau d’Travelers berkendara dari Kota Lama Surabaya ke arah Jembatan Suramadu, ada sebuah kompleks benteng pertahanan laut masa kolonial Belanda berusia 125 tahun yang masih berdiri dan dikenal dengan nama Benteng Kedung Cowek.

Berdiri di atas tanah yang kini menjadi lahan milik Kodim 0831 Surabaya Timur, benteng ini berada tidak jauh dari jalan masuk Jembatan Suramadu dari arah Surabaya. Tepatnya di sisi Timur kaki Jembatan Suramadu, jadi kita mesti memutar balik dulu di bawah jembatan.

Sebelum sampai ke tempat parkir kendaraan bermotor, d’Travelers akan melewati jalan kecil dengan kondisi yang baik. Di area parkir sendiri terdapat beberapa buah warung makan. jadi D’travellers tidak perlu khawatir bila ingin makan siang atau sekedar istirahat. Tidak ada tiket masuk ke benteng Kedung Cowek. Hanya biaya parkir sebesar Rp. 10.000 untuk mobil.

Untuk menuju benteng, d’Travelers mesti jalan kaki dari area parkir melewati jalan setapak di tengah hamparan pohon-pohon besar, lapangan terbuka dan beberapa kolam penampungan air. Tapi tidak usah khawatir, karena benteng yang pertama sangat dekat dengan area parkir.

Bila mau ke benteng yang kedua, d’Travelers dapat melanjutkan jalan kaki lagi melewati jalan setapak diantara pepohonan rimbun yang menambah suasana menjadi teduh. Di Google Maps, disebutkan nama benteng-benteng tersebut sebagai Benteng Suramadu (yang paling dekat dengan area parkir kendaraan) dan Benteng Kedung Cowek.

Tapi sesungguhnya kedua benteng yang dibangun pada Januari 1900 tersebut masih satu kesatuan, yaitu: “Kustbatterij Kedoeng-tjowek” (Baterai Pertahanan Pantai Kedoeng-tjowek). “Kustbatterij” sebagai benteng pertahanan memiliki beberapa menara pengintai, bunker, kolam persediaan air, meriam-meriam (kanon) berkaliber 150 mm dan 37 mm serta gudang-gudang peluru (berdasarkan data dari cetak biru “Kustbatterij Kedoeng-tjowek”).

Rasa penasaran tentang sejarah benteng ini membawa saya berselancar mencari arsip dari koran-koran lama dan nationaalarchief.nl. Dan hasilnya saya mendapatkan beberapa potongan berita lama dan beberapa cetak biru pembangunan benteng pertahanan perairan Timur Selat Madura yang meliputi Semambung, Kedung Cowek dan Kalidawir.

Cetak biru tersebut ditandatangani oleh Kapten Zeni J.C. Proper di Batavia (Jakarta) pada tanggal 15 Januari dan 30 April 1900. Kurang lengkap rasanya kalau belum menjelajah sendiri benteng-benteng tersebut.

Jadi langsung saja saya melangkahkan kaki menuju benteng. Kekar dan kokoh, itu kesan yang saya dapat saat sampai ke benteng.

Bagaimana tidak, tebal temboknya saja sekitar 30 cm (1 jengkal tangan saya sekitar 20 cm). Di lantai 1 terdapat bunker dan gudang peluru. Dan kalau kita naik ke bagian atas benteng, kita akan sampai ke parepet (dinding batas keamanan) yang menghadap langsung ke Selat Madura.

Parepet-parepet ini terhubung dengan menara pengintai dan dek meriam. Bila kita lihat tembok benteng ini dari arah pantai, terlihat bentuk tembok yang membulat dan banyak terdapat lubang-lubang bekas peluru.

Penasaran dengan benteng yang berada di dalam hutan? Kita tinggal berjalan kaki sekitar 5 menit melalui jalan setapaknya.

Tenang aja, aman kok walaupun kita berjalan di tengah-tengah “hutan” tapi pastikan saat cuaca cerah ya karena jalan setapak akan becek bila hujan.

Sebenarnya benteng yang di dalam hutan ini bentuknya sama saja dengan yang di depan. Tapi karena lebih banyak pohon-pohon besar, jadi suasananya lebih teduh.

Dan di salah satu dek meriamnya masih terdapat rel dan baut-baut bekas dudukan meriam. Walaupun meriam-meriamnya sudah tidak ada lagi tapi tidak mengurangi rasa kagum saya terhadap Benteng Kedung Cowek Kondisi bangunan yang masih terjaga menambah nilai historisnya, walaupun beberapa bagian tertutup oleh semak-semak dan dikotori dengan beberapa mural.

Suasana sekeliling yang asri menambah nilai plus. Tidak heran benteng ini kerap dijadikan obyek foto. Benteng Kedung Cowek, telah ditetapkan menjadi Bangunan Cagar Budaya berdasarkan SK Walikota Surabaya No. 188.45/261/436.1.2/2019.

Bisa dijadikan salah satu tujuan wisata sejarah di Surabaya. D’travelers tertarik untuk ke sini?

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel. Anda bisa mengirim cerita perjalanan Anda melalui tautan ini.