Pulau Socotra yang berada di selatan pantai Yaman membuka tahun baru dengan masa yang sulit. Memanasnya hubungan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) membuat turis-turis terjebak di sana.
Akhir pekan ini UEA menarik pasukannya Southern Transitional Council (STC) dari Yaman. Semua bermula dari kehadiran STC pada tahun 2018, saat itu mereka belum diterima baik oleh penduduk. Sementara pemerintah Yaman didukung oleh Arab Saudi.
Berjalannya waktu, STB menjalankan kendali yang separatis, pasukan pemerintah yang didukung oleh Saudi mulai melakukan konfrontasi. STC berupaya mendapatkan otonomi untuk Yaman selatan yang berujung pada kendali penuh.
STC masih mengendalikan pulau itu, tapi bandara tidak lagi berada di bawah kendali UEA. Menurut sumber bandara kepada Reuters pada Selasa (6/1/2026), fasilitas itu telah tertutup.
Maskapai penerbangan Yaman mengatakan pada Senin malam bahwa mereka akan mengoperasikan penerbangan ke Jeddah pada 7 Januari, sebuah tanda pasti bahwa kendali bandara telah bergeser.
“Di sebuah pulau di mana akses udara seringkali menjadi gerbang yang menentukan, pengaruh atas konektivitas diterjemahkan menjadi pengaruh atas segala hal lainnya, termasuk kehadiran keamanan, pemerintahan lokal, dan kehidupan komersial,” kata Andreas Krieg, profesor madya di King’s College London.
Sementara itu, 600 turis dari berbagai negara terjebak di pulau yang konon menjadi ‘tempat tinggalnya Dajjal’ itu.
“Tidak ada yang memiliki informasi dan semua orang hanya ingin kembali ke kehidupan normal mereka,” kata Aurelija Krikstaponiene, seorang warga Lithuania yang melakukan perjalanan ke Socotra pada malam Tahun Baru.
Ia seharusnya terbang kembali ke Abu Dhabi pada hari Minggu, tetapi sekarang mungkin harus melakukan perjalanan melalui Jeddah di Arab Saudi sebagai gantinya, karena kendali UEA atas pulau itu melemah.
Terpaksa Bertahan Tanpa Mesin ATM
Kekhawatiran lain diutarakan oleh Maciej, seorang turis Polandia yang menjadi bagian dari kelompok dari 100 wisatawan. Ia mulai kehabisan uang tunai.
“Kami memiliki jumlah uang tunai yang terbatas, dan sebagian besar orang akan kehabisan dalam dua atau tiga hari,” kata Maciej.
“Tidak ada terminal pembayaran atau ATM di sini dan transfer bank juga tidak dapat dioperasikan. Semuanya bergantung pada uang tunai. Ketika uang tunai habis, kami akan tidur di jalanan dan bergantung pada bantuan makanan dari penduduk setempat,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dia tidak diperingatkan tentang kemungkinan konflik sebelum dia memesan perjalanannya.
Di sisi lain, Bianca Cus seorang turis asal Rumania masih mencoba untuk menikmati sisa waktunya di pulau itu sampai penerbangan beroperasi kembali.
“Saya menikmati setiap hari di pulau ini, sama seperti sebelum kami mengetahui bahwa kami akan tinggal lebih lama,” katanya.






