Terpencil di kawasan hutan, Shirawaka-go telah lama menjadi tujuan wisata dunia. Budaya dan rumah tradisional yang terus terjaga membuatnya sesak oleh turis.
Shirakawagō di Prefektur Gifu adalah rumah bagi rumah-rumah gassho-zukuri yang berusia 300 tahun. Terletak di kawasan hutan, rumah-rumah ini tampak mencolok dengan atap jerami miring.
Rumah-rumah gassho-zukuri di desa ini dirancang secara unik untuk melindungi penghuni dari hujan salju lebat, dengan atap jerami curam yang menyerupai tangan seorang biksu yang sedang berdoa. Struktur-struktur ini merupakan bukti kecerdasan dan ketahanan cara hidup tradisional di daerah tersebut.
Meskipun peningkatan pariwisata ini telah membawa peluang baru bagi daerah tersebut, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang tekanan yang ditimbulkannya pada komunitas lokal dan keseimbangan situs warisan UNESCO. Apalagi permintaan jumlah wisatawan terus meningkat, seperti dikutip dari Tour and Travel World, Jumat (16/1/2026).
Pada tahun 2024, Shirakawa-go mengalami peningkatan pariwisata yang dramatis, dengan 2 juta pengunjung melewati desa tersebut. Ini menandai peningkatan signifikan baik pengunjung domestik maupun internasional, khususnya dari negara-negara di Eropa dan Asia. Padahal penduduknya hanya 500 orang saja.
Penduduk Shirakawa-go bergantung pada pariwisata untuk sebagian besar pendapatan mereka, dengan banyak bisnis lokal yang secara langsung mendapat manfaat dari arus wisatawan yang stabil.
Namun, ada kekhawatiran yang berkembang tentang keberlanjutan model ini. Peningkatan jumlah pengunjung telah memberi tekanan pada layanan publik, dan infrastruktur desa kecil tersebut tidak siap untuk menangani volume lalu lintas yang tinggi.
Otoritas lokal telah mencatat tantangan dalam mengelola sampah, kemacetan lalu lintas, dan memastikan bahwa lingkungan yang rapuh dan warisan budaya desa tetap terlindungi.
Salah satu kekhawatiran utama adalah pelestarian rumah-rumah gassho-zukuri itu sendiri. Rumah-rumah tradisional ini bukan hanya keajaiban arsitektur tetapi juga bagian dari tatanan budaya desa.
Dengan meningkatnya jumlah wisatawan, menjaga keutuhan bangunan-bangunan yang berusia ratusan tahun ini menjadi semakin sulit. Upaya pelestarian menjadi semakin mendesak, karena kerusakan akibat banyaknya pengunjung mengancam keberlangsungan struktur-struktur ini.
Untuk mengatasi kekhawatiran ini, pejabat setempat dan organisasi pariwisata sedang menjajaki praktik pariwisata berkelanjutan untuk meminimalkan dampak negatif dari ledakan pariwisata. Salah satu solusi potensial yang sedang dibahas adalah menerapkan pembatasan jumlah pengunjung. Harapannya, strategi ini dapat memastikan bahwa desa dapat mengakomodasi tamu tanpa membebani infrastruktur lokal.
Strategi lain adalah memperkenalkan lebih banyak inisiatif pariwisata ramah lingkungan yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan dari peningkatan jumlah pengunjung. Ini dapat mencakup dorongan penggunaan transportasi umum, menawarkan lebih banyak program pendidikan tentang sejarah desa dan upaya pelestarian, dan mempromosikan perjalanan di luar musim puncak (musim dingin) untuk menyebarkan jumlah wisatawan sepanjang tahun.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Cara ke Shirakawa-go
Akses ke Shirakawa-go: Bus langsung yang berangkat dari Stasiun Takayama (50 menit) dan Stasiun Nagoya (3 jam). Perlu pemesanan di awal untuk layanan ini. Pilihan lain bisa dengan bus Kaetsuno dari Stasiun Takaoka ke Shirakawa-go (130 menit).






