Dieng yang Selalu Dirindukan, Kisah Pendakian Gunung Prau Bersama Keluarga

Posted on

Dieng, 23 Agustus 2025 – Dataran tinggi yang selalu terasa lebih dingin dibandingkan daerah rumah saya di Magelang. Udara sejuknya, ketenangannya, dan suasana syahdunya selalu membuat saya rindu untuk kembali ke Dieng.

Perjalanan dari Magelang menuju Dieng dengan menggunakan sepeda motor, ditempuh hampir sekitar 2 jam. Kalau ditanya pegal, sudah pasti. Tapi rasa antusias mengalahkan rasa pegal itu.

Apalagi perjalanan kali ini terasa istimewa karena saya mendaki Gunung Prau bersama keluarga. Bahkan, mama saya ikut serta. Di usianya yang hampir menginjak 50 tahun, mama berhasil menginjakkan kaki di Gunung Prau dengan ketinggian 2.590 mdpl. Bagi saya, itu luar biasa dan patut diacungi jempol.

Sesampainya di Dieng, kami beristirahat sebentar di depan minimarket untuk sekedar beristirahat dan membeli koyo. Kalau yang membeli koyo adalah mama atau tante saya, kemungkinan masih wajar, tapi ini kakak saya! Dan yang memakai koyo ada saya dan adik sepupu yang masih SMP, kalau kata orang-orang di sosmed, itu namanya remaja jompo! Hahaha.

Kami pun tidak lupa untuk membeli bakso dan juga kopi. Dinginnya Dieng memang lebih enak kalau dihidangkan dengan yang hangat-hangat. Setelah beristirahat, kami berkemas lagi untuk menuju ke basecamp Gunung Prau dengan jarak yang tidak begitu jauh. Sesampainya di basecamp, kami menyiapkan berkas seperti fotokopi KTP dan mengisi form untuk registrasi.

Kami diminta untuk membayar simaksi sekitar Rp 30.000 – Rp 35.000. Kakak saya yang mengurus segala macam persyaratan masuk. Oh iya, sebelumnya saya mendaki bersama mama, tante, kakak, teman perempuan kakak, adik, dan juga adik sepupu saya.

Kami memiliki tugas masing-masing, mama dan tante yang cross check barang-barang, kakak dan temannya yang mengurus registrasi sedangkan saya, adik, dan sepupu menyewa barang yang kurang di sekitar penyewaan basecamp.

Kami mendaki melalui jalur via patak banteng, jalur yang cukup ramai oleh pendaki. Kami mendaki di waktu setelah maghrib dan berjalan hingga sampai di jalur tangga yang sering dikenal dengan istilah “1.000 tangga”.

Istilah tersebut merujuk pada tangga yang menanjak dan cukup melelahkan. Sejujurnya, saya paling tidak suka jalur tangga jika mendaki gunung. Sesampainya di atas, kami berhenti sebentar untuk menunggu tante dan juga kakak saya yang ketinggalan.

Ternyata pada saat itu tante saya sudah mabuk dan muntah karena menaiki tangga yang cukup panjang. Kami menunggu ia beristirahat hingga sudah cukup untuk bisa melanjutkan perjalanan.

Menuju Pos 1, rasa lelah mulai terasa, terutama bagi saya dan sepupu. Tanpa sengaja saya nyeletuk, “Pengen ojek,” padahal sudah gelap dan rasanya mustahil ada ojek. Tak disangka, tiba-tiba ada ojek melintas dari arah atas. Tanpa ragu, saya dan mama memutuskan naik ojek, sementara yang lain melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Setelah saling menunggu, kami berjalan lagi untuk menuju ke pos 2.

Kami berjalan dengan pelan dan tidak terburu oleh waktu, disambi berbincang-bincang serta menyanyi dengan random. Saya, Sepupu dan juga Mama berjalan duluan dan menemukan warung untuk kami beristirahat.

Kami menunggu yang lain lagi disambi jajan gorengan dan juga semangka yang disediakan oleh warung. Tidak lupa juga untuk sekadar ke toilet. Setelah yang lain sampai di pos 2, kami beristirahat bersama sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Kami juga berbincang dengan pendaki lain di warung tersebut. Setelah dirasa kami sudah tidak lelah, kami mulai melanjutkan perjalanan.

Sampai pada pos 2, saya dan sepupu berhenti untuk berfoto di papan melengkung bertuliskan “Gunung Prau Patak Banteng”. Lalu kami menuju ke pos 3 melalui jalur yang baru dikarenakan tracknya yang lebih manusiawi.

Kami berjalan dan beristirahat dengan berulang dengan menikmati indahnya pemandangan Wonosobo pada malam hari. Kami pun sampai di pos 3 dan berhenti lagi untuk berfoto bersama di papan bertuliskan “pos 3 padang ilalang”.

Setelah itu kami lanjut untuk menuju ke area camping untuk mendirikan tenda. Kami sampai di area camping sekitar 4 jam mendaki. Setelah tenda didirikan, kami makan dengan logistik yang kami siapkan dari bawah. Karena kami sudah mulai lelah dan cuaca di atas yang sangat dingin, saya dan adik saya tidur lebih dulu dibanding yang lain.

Pukul 04.00 pagi, saya terbangun untuk menanti matahari terbit. Satu per satu kami bangun. Sepertinya Tuhan berpihak kepada kami hari itu-cuaca cerah, dan kami bisa menikmati sunrise yang begitu indah. Setelah itu, mama dan tante memasak mi goreng untuk sarapan kami.

Setelah menikmati indahnya sunrise, mama dan tante mulai memasak mie goreng untuk kami santap. Matahari pun sudah dengan percaya diri memunculkan wujudnya.

Setelah makan, saya, kakak, teman kakak, adik, dan sepupu melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Prau. Mama dan tante memilih tetap beristirahat di tenda. Jarak dari area camping ke puncak memang cukup menguras tenaga, tetapi semuanya terbayar dengan hamparan padang rumput yang luas dan memanjakan mata.

Sesampainya kami di puncak, kami berfoto bersama denganmenggunakkan plakat yang disediakan. Setelah berfoto, kami lanjut menuju tenda dan mulai merapikan tenda untuk turun ke bawah. Kami turun melalui jalur lama,disitu saya sempat terpeleset berkali-kali karena jalannya yang licin dan bebatuan. Jalur patak banteng yang lama cukup tidak ramah bagi pemula.

Dan lagi-lagi saya katakan hebat untuk mama dan tante saya yang melewati jalur ini. Kami turun hingga sampai di base camp, dengan waktu yang lumayan lebih singkat dibandingkan dengan naiknya. Saat di basec amp, kami menunggu tempat registrasi buka di jam 1 siang sambil beristirahat.

Setelah semua urusan selesai, kami pun bersiap pulang ke rumah-membawa lelah, tawa, dan kenangan yang tak terlupakan dari Gunung Prau.

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikTravel. Anda bisa mengirim cerita perjalanan Anda melalui tautan ini.