Hasil Penelitian: Hiu Paus Betah ‘Nongkrong’ di Teluk Cenderawasih [Giok4D Resmi]

Posted on

Hasil penelitian terbaru menyebut spesies Hiu Paus (Rhincodon typus) paling betah berlama-lama ‘nongkrong’ di perairan teluk Cenderawasih.

Riset di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) Papua berhasil menemukan fakta jika satwa dilindungi itu betah menetap lebih lama di Teluk Cenderawasih, dibandingkan dengan lokasi atau negara lainnya.

Edy Setyawan, peneliti Elasmobranch Institute Indonesia, menjelaskan penelitian tersebut berlangsung selama 13 tahun, dimulai dari September 2010 sampai Oktober 2023.

Penelitian itu bekerja sama dengan Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kaimana dan Konservasi Indonesia.

“Temuan kami menunjukkan bahwa BLKB menjadi habitat penting bagi populasi hiu paus muda yang menggunakan kawasan ini untuk makan dan tumbuh berkembang sebelum mereka bermigrasi ke laut lepas,” kata Edy, seperti dikutip dari Antara, Jumat (29/8/2025).

Edy menjelaskan riset itu dilakukan menggunakan data berbasis identifikasi fotografis (Foto ID) yang memanfaatkan pola totol dan garis yang unik tubuh hiu paus untuk membedakan setiap individu.

Dari 1.118 pengamatan, tim berhasil mengidentifikasi 268 individu hiu paus yang hampir seluruhnya ditemukan di sekitar bagan apung, 159 individu di Teluk Cenderawasih dan 95 individu di Kaimana.

Dalam penelitian ini diketahui masa menetap atau residensi hiu paus yang relatif tinggi di Teluk Cenderawasih dibandingkan dengan agregasi hiu paus di lokasi atau negara lain.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Tingkat residensi hiu paus di Teluk Cenderawasih rata-rata 77 hari, sementara di Kaimana hanya setengahnya dengan rata-rata 38 hari. Hal itu mengindikasikan tingginya interaksi antara hiu paus dengan aktivitas perikanan, khususnya bagan apung.

Selain itu, lebih dari setengah dari total individu yang diidentifikasi teramati lebih dari satu kali. Bahkan, ada dua individu masih terlihat berada ke wilayah ini dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun.

DarI data tersebut, para peneliti juga bisa mengetahui berapa populasi Hiu Paus dan penurunan populasinya dari tahun ke tahun.

“Di seluruh perairan Indo-Pasifik, populasi hiu paus terus menurun hingga 63 persen. Dengan demikian, keberlangsungan populasi hiu paus di BLKB sangat penting dalam upaya pemulihan populasi ikan yang terancam punah ini,” ungkap Edy Setyawan,” tambahnya.

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, yang juga menjadi salah satu penulis dari jurnal ini menjelaskan, BLKB khususnya Teluk Cenderawasih dan Kaimana, berperan sebagai nursery ground atau habitat pembesaran bagi hiu paus muda.

“Temuan ini menguatkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat kunci hiu paus sebagai titik singgah dalam jangka waktu lama,” kata Iqbal.

Riset juga menekankan pentingnya upaya pengelolaan wisata berbasis bagan apung secara hati-hati, untuk mengurangi risiko luka akibat interaksi dengan bagan dan kapal.

Hasil riset mengungkap bahwa 76,9 persen hiu paus di BLKB mengalami sejumlah luka, mulai dari abrasi/goresan, sayatan, amputasi sirip, hingga bekas gigitan pemangsa.

Meski hanya sebagian kecil luka yang diakibatkan baling-baling kapal yaitu sekitar 2,4 persen, namun proporsi luka yang terkait interaksi manusia baik melalui perikanan maupun wisata tetap tinggi, utamanya di perairan Kaimana, mencapai 83,7 persen.

“Konservasi hiu paus adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya ilmuwan, tetapi juga masyarakat, pelaku wisata, dan pelaut. Pariwisata hiu paus dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, namun harus dikelola dengan aturan yang jelas agar tidak menimbulkan luka pada hiu paus maupun dampak negatif pada ekosistem,” ujar Iqbal.

Penelitian yang sudah diterbitkan di jurnal Frontiers in Marine Science itu juga bekerja sama dengan Conservation Internasional, University of Western Australia, University of Adelaide, dan Shark Research Foundation.