Sebuah bangunan tua yang sarat dengan sejarah pemerintahan yang unik dari kolonial tak terawat berdiri di kawasan Depok Lama, Depok, Jawa Barat. Berakhir sebagai Rumah Sakit Harapan, dulu bangunan itu pusat administrasi kolonial dengan nama Gemeente atau Kotapradja.
Melansir buku Potret Kehidupan Sosial & Budaya Masyarakat Depok Tempo Doeloe karya Jonathans (2011), Gemeente Depok memiliki sistem pemerintahan otonom. Bangunan ini dipimpin oleh seorang presiden. Meski begitu, Depok bukanlah republik atau negara berdaulat dalam arti modern.
Pada era VOC, konsep negara seperti yang kita kenal saat ini belum terbentuk. Namun, Gubernur Jenderal Cornelis Chastelein memberikan hak kepemilikan tanah pribadi yang disebut landerien kepada warga tertentu. Tanah-tanah itu dikelola secara mandiri oleh pemiliknya, tanpa campur tangan pihak luar.
Karena itulah, komunitas Kristen yang tinggal di Landerien Depok dikenal sebagai Inlandsch Christenen Gemeente van Depok. Pemerintah Belanda tidak ikut campur dalam urusan internal tanah-tanah ini, sehingga pengelolaan dilakukan secara otonom oleh para pemiliknya.
Saat detikTravel mengikuti walking tour Jakarta Good Guide (JGG) rute Depok Lama, Selasa (30/12/2025), Rony Maulana, pemandu, menunjukkan arsip bahwa bangunan itu menjadi Kantor Presiden Depok hingga 1952.
“Terus setelah terbentuk Presiden Depok, bangunan ini baru dijadikan Kantor Presiden Depok, ya sampai tahun 1952,” kata Rony di depan gedung bekas RS Harapan, Jl. Pemuda, Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat.
Dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia, Pemerintahan Gemeente Depok juga resmi berakhir, termasuk masa jabatan presidennya. Setelah itu, Depok berubah status menjadi sebuah kecamatan di bawah Kawedanaan, yaitu wilayah administrasi setara Pembantu Bupati di Parung, Kabupaten Bogor.
Bangunan tua yang dahulu menjadi pusat pemerintahan kolonial itu juga mengalami perubahan fungsi. Menurut Rony, pada era 1960-an hingga 2020, gedung tersebut difungsikan sebagai rumah sakit.
“Setelah Presiden Depok selesai masa menjabatnya, diambil alih. Kemudian, pada 1960-an, gedung itu dijadikan rumah sakit paru-paru untuk kawasan Depok. Nah, karena tadi cuma klinik paru-paru doang, khusus paru-paru, terus baru sekitar tahun ’80-an dijadikan Rumah Sakit Harapan,” kata dia.
Sayangnya, operasional rumah sakit itu kini telah terhenti total. Berakhirnya kontrak kerja sama antara Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) yang mengelola kawasan Depok Lama dengan pengelola rumah sakit membuat gedung ini kosong sejak sekitar 2020, tepat setelah masa pandemi Covid.
Monumen Cornelis Chastelein
Tepat di sebuah monumen bersejarah yang penting berdiri di depannya ada monumen. Monumen yang didirikan pada 1914 itu merupakan penghormatan atas peringatan 200 tahun kematian Cornelis Chastelein, pemilik tanah yang memberikan tanah Depok kepada budaknya.
Mengutip catatan Wenri Wanhar dalam bukunya Gedoran Depok, peristiwa tersebut terjadi pada era yang ditandai dengan gejolak di fase awal perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan.
Di tengah ketegangan itu, warga yang dikenal sebagai “Belanda Depok” menjadi pusat perhatian. Meskipun mereka bukan perwakilan penjajah, amuk massa menimpa mereka karena salah sasaran dalam kekacauan yang melanda wilayah tersebut.
Akibat peristiwa tersebut, beberapa bangunan dan monumen mengalami kerusakan.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Sejalan dengan catatan tersebut, Rony menjelaskan bahwa struktur yang berdiri saat ini merupakan hasil pembangunan ulang setelah amuk massa. Bentuknya sedikit berbeda dibandingkan aslinya, tetapi monumen itu tetap menjadi saksi sejarah dari peristiwa penting tersebut.
“Monumen yang teman-teman lihat itu adalah bangunan yang dibangun ulang. Karena apa? Peristiwa Gedoran, itu dihancurin, ya. Jadi dihancurkan dan baru pada 1950-an dibangun ulang kembali. Makanya, kalau teman-teman lihat sebenarnya bangunan yang aslinya itu lebih kecil, lebih ramping,” kata dia.
Menurut Boy Loen, ketua sub sejarah YLCC, monumen yang terdiri dari empat sisi tertanam marmer tersebut didirikan oleh Warga Belanda Depok. Berisi tentang pesan dan harapan Chastelein terhadap kota depok kepada budak-budaknya yang akan diwariskan.
“Di monumen itu adalah ucapan Chastelein. Ya kalau bahasa sekarang sih kata-kata profetik, yang dalam bahasa Belanda yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia itu dia katakan ‘Harapan saya kelak, bahwa di Depok ini akan tumbuh masyarakat Kristen yang sejahtera’,” kata Boy saat ditemui detikTravel pekan lalu.
Gedung bekas Rumah Sakit Harapan dan Monumen Chastelein menjadi pengingat yang mendalam akan evolusi sejarah Depok yang kompleks dari masyarakat Kristen Belanda Depok yang mandiri hingga lanskap perkotaan modern yang beragam.
Hingga kini, situs-situs bersejarah tersebut tetap berdiri kokoh, dikelola oleh pemerintah melalui YLCC. Mereka menjadi saksi bisu era “Presiden Depok” mewakili aspirasi yang telah lama dipegang untuk kesejahteraan dan persatuan warga Belanda Depok yang terus berkembang melampaui batasan waktu.






