Kawasan Konservasi Alam, yang kini dinamai Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas di Depok, memiliki fungsi tak hanya sebagai paru-paru kota. Hutan tua seluas sekitar 7 hektare itu sarat dengan misteri, legenda, kearifan lokal dan legenda urban.
Tahura Pancoran Mas sedang direvitalisasi saat ini. Lahan konservasi di tengah permukiman padat di Depok itu menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna. Nantinya, revitalisasi menjadikan hutan itu memiliki jogging track dan danau kecil
Di tengah proses menghidupkan kembali Tahura Panmas, Romo Prabu, pemerhati budaya dan kearifan lokal Depok, menyampaikan pesan-pesan yang mendalam. Dia menekankan bahwa kemajuan harus mengakui konteks historis dan menghormati penduduk lama.
Prabu lebih menyukai menyebut Tahura Pancoran mas itu dengan Alas Tua atau hutan tua. Sebelum diberi nama Tahura Pancoran Mas, area itu dinamai Cagar Alam Depok.
Menurut Romo Prabu Alas Tua atau Tahura Pancoran Mas itu terkait erat dengan legenda Ratu Gumarong. Dia menjelaskan bahwa tokoh itu dianggap sebagai penguasa gaib wilayah tersebut.
“Ratu Gumarong itu ya Depok. Depok adalah Ratu Gumarong, tidak bisa dipisahin. Seperti Peuyeum adalah Bandung, atau Tahu adalah Sumedang,” ungkap Romo Prabu saat kepada detikTravel di kediamannya, Senin (19/1/2026).
Prabu menggambarkan sosok Ratu Gumarong sebagai ular naga bermahkota dengan ukuran raksasa.
“Sebesar-besarnya itu ya se-body kereta api,” kata Prabu.
Dia mengatakan Wujud Ratu Gumarong dipercaya bisa bermanifestasi sebagai ular penuh atau separuh manusia separuh ular.
Terlepas dari percaya atau tidaknya masyarakat modern, Romo menegaskan bahwa legenda ini adalah bagian dari identitas Alas Tua yang sudah diketahui turun-temurun oleh orang tua di Depok.
Harapan pada Revitalisasi Tahura Panmas
Terkait upaya revitalisasi Tahura Pancoran Mas, Prabu memberikan peringatan keras tetapi bijak. Dia mengingatkan bahwa menata ulang hutan purba tidak bisa dilakukan sembarangan (gegabah), terutama soal penebangan pohon.
“Kita revitalisasi umpamanya, jepret aja, hilang tuh satu pohon. Apa bisa kamu ganti pohon yang sama persis serupa sama pohon itu? Itu dari abad ke berapa pohon sudah tumbuh di situ,” kata Prabu.
Dia mengutip nasihat orang tua zaman dulu dengan logat khas Depok yang kental.
“Bae-bae Tong, jangan sekata-katanya, jangan setempras-temprasnya, selempang gua,” kata dia.
Menurutnya kata ‘selempang’ dalam bahasa Sunda berarti khawatir. Dia menyampaikan kekhawatiran mendalam jika pembangunan dilakukan tanpa adab, akan ada dampak yang tidak diinginkan, baik secara lahiriah maupun batiniah.
Untuk mengatasi kebutuhan akan harmonisasi antara kemajuan kontemporer dan penghormatan terhadap warisan budaya, Prabu mengusulkan untuk menghidupkan kembali tradisi sedekah barit atau sedekah bumi.
Tradisi itu secara historis diadakan di persimpangan Tahura. Anggota komunitas akan menyebar tikar, menyajikan tumpeng, ayam, kopi, dan berbagai persembahan untuk berdoa bersama demi keselamatan.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Bikin selamatan di situ. Dulu bikin sedekah bumi di situ, perempatan situ, sedekah barit. Bikin sono di perempatan sebelum macul ngegempur bumi. Dulu di situ, di perempatan itu bikin sedekah barit, namanya sedekah barit, sedekah bumi, dulu bikin selamatan” sarannya.
Romo Prabu bahkan menyarankan agar tradisi ini dikemas menyesuaikan zaman agar bisa diterima oleh Generasi Z (Gen Z), misalnya digabungkan dengan bazar atau acara tabligh akbar, namun tanpa menghilangkan esensi ritual orisinil-nya.
“Kemas terserah mau dikemasnya di situ ada bazar kek, itu terserah aja. Tapi tetap khazanah sedekah barit-nya dibikin,” kata dia.
Diakhir penjelasan, Romo Prabu yang merendah dan menyebut dirinya hanya sebagai “pengeling-eling” (pengingat), meminta siapa pun yang hendak mengelola Cagar Alam untuk mendatangi para sesepuh Depok.
“Sambangin itu sesepuh-sesepuh Depok, minta saran beliau, minta doa beliau. Jangan sampai nanti sesepuh Depok dikabarin ‘Loh kok udah ada ginian?’,” kata dia.
Revitalisasi Cagar Alam Depok diharapkan tidak hanya mempercantik fisik hutan, namun juga merawat memori kolektif dan menghormati Alas Tua yang sudah ada jauh sebelum kota ini terbangun.
