Bagi traveler yang sering berolahraga atau melintas di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), sosok dua patung raksasa di Pintu Utara pasti sudah tidak asing lagi.
Berwajah sangar dengan senjata di tangan, arca ini dikenal sebagai Dwarapala. Namun, tahukah Anda bahwa keberadaan mereka bukan sekadar hiasan?
Patung Dwarapala di GBK merupakan perpaduan antara nilai sejarah kuno dan visi modernitas Indonesia. Berikut adalah fakta-fakta menarik di balik sang penjaga gerbang tersebut:
1. Sosok Pemangsa yang ‘Bertaubat’
Menurut Ilyas Subekti, Pemandu Jakarta Good Guide, Dwarapala memiliki latar belakang yang cukup kelam. Ia dikisahkan sebagai sosok yang gemar memangsa manusia.
“Dwarapala itu sebenarnya sosok yang doyan makan orang, doyan makan orang lah pada intinya, kayak gitu” ujar Ilyas kepada detikTravel saat ikut tur jalan kaki, Kamis (8/1/2026).
Namun, garis hidupnya berubah setelah ia bertemu dengan Sang Buddha. Dwarapala kemudian disadarkan melalui ajaran kitab suci dan melepaskan tabiat buruknya.
“Pada waktu itu akhirnya diinsafkan oleh Buddha, ya disadarkan oleh Buddha karena dia belajar kitabnya Buddha kayak gitu akhirnya disadarkan. Akhirnya dikasih tugas, ‘Udah jangan makan-makan orang lagi’. Terus tugasnya ngapain? Jagain tanah sama area rumah lah kayak gitu pada intinya. Ya intinya adalah sebagai pelindung, makanya selalu berada di depan rumah, depan pekarangan,” tambah Ilyas.
2. Simbol Keamanan dan Kehormatan di GBK
Kehadiran Dwarapala di komplek GBK bukan tanpa alasan. Melansir Jurnal Sejarah dan Budaya, yang ditulis oleh Wahyudi dan Jati (2018) dengan tajuk ‘Gaya Seni Arca Dwarapala Raksasa Kadiri, Singhasari & Majapahit’, Dwara berarti pintu dan Pala berarti penjaga atau pelindung.
Jadi bisa dibilang, arca ini diletakkan di gerbang masuk sebagai simbol perlindungan terhadap area sakral atau penting. Di Pintu Utara GBK, patung ini memiliki karakteristik visual yang khas.
Postur tubuh Dwarapala digambarkan dengan posisi duduk satu kaki menekuk (sukhâsana) yang memberikan kesan sigap namun tetap tenang. Atribut tangan kanan memegang senjata berupa gada besar yang bersandar di bahu, melambangkan kesiapan untuk menghalau bahaya.
Ekspresi wajah dengan mata melotot dan taring bukan untuk menakuti pengunjung, melainkan untuk mengusir niat jahat yang hendak masuk ke kawasan GBK.
Berbeda dengan patung Kilin di klenteng yang biasanya hadir berpasangan jantan dan betina, Dwarapala di GBK cenderung digambarkan dengan karakter maskulin yang serupa pada kedua sisinya. mengapa
