Saat memasuki kawasan Museum Nasional Indonesia, suasana terasa berbeda dari biasanya. Tak lagi hanya dipenuhi antrean panjang di luar gedung, pengunjung kini bisa langsung menemukan area luas yang nyaman untuk beristirahat tanpa harus membeli tiket masuk museum.
Museum Nasional menghadirkan inovasi baru dengan membuka area non-tiket seluas sekitar 1.500 meter persegi. Area yang sebelumnya difungsikan sebagai ruang pamer ini kini menjadi ruang tunggu sekaligus ruang publik yang dapat diakses siapa saja. Di dalamnya, pengunjung terlihat duduk santai, menunggu keluarga, hingga menikmati bekal yang dibawa dari rumah.
“Setelah kita pindah ke sini, kita punya area sebesar ini yang pengunjungnya tidak bertiket bisa menunggu, bisa duduk. Kalau mau bawa bekal, bisa makan di sini,” ujar Angel, tour guide Museum Nasional, saat ditemui di lokasi.
Keberadaan area ini terasa sangat membantu, terutama saat museum ramai dikunjungi. Selama ini, antrean tiket kerap memanjang hingga ke luar gedung. Di bawah terik matahari atau saat hujan turun, pengunjung termasuk rombongan pelajar harus menunggu di area terbuka. Pemandangan rombongan anak sekolah berbaris di luar gedung bukanlah hal baru.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Biasanya, mereka menunggu sementara guru atau pendamping mengurus pembelian tiket. Kondisi tersebut dinilai kurang nyaman, apalagi bagi anak-anak yang datang dalam jumlah besar.
“Kasihan anak-anak sekolah kalau harus menunggu di luar, apalagi kalau hujan atau panas. Biasanya mereka berbaris di luar saat gurunya beli tiket,” kata Angel.
Kini, situasi itu mulai berubah. Dengan area non-tiket yang luas, Museum Nasional dapat menampung beberapa rombongan bus sekaligus. Anak-anak bisa menunggu di dalam gedung dengan aman dan nyaman, sementara proses pembelian tiket tetap dilakukan oleh pendamping.
Tak hanya ruang tunggu, museum juga membuka sejumlah fasilitas lain yang kini bisa diakses tanpa tiket. Kantin yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi pengunjung bertiket kini dibuka untuk umum.
Ruang anak, inner court, hingga teater yang kerap digunakan untuk program publik juga dapat dimanfaatkan bebas oleh masyarakat. Langkah ini membuat museum terasa lebih hidup dan ramah keluarga.
Pengunjung tak lagi harus masuk ke ruang pamer untuk sekedar beristirahat atau menghabiskan waktu bersama anak. Selain itu, Museum Nasional juga menyiapkan fasilitas ibadah berupa masjid yang sebelumnya difungsikan sebagai auditorium.
Masjid ini disiapkan untuk memenuhi kebutuhan ibadah ratusan pegawai museum serta masyarakat sekitar. Melalui berbagai pembaruan ini, Museum Nasional Indonesia tak hanya hadir sebagai tempat penyimpanan sejarah, tetapi juga berkembang menjadi ruang publik yang nyaman, inklusif, dan terbuka bagi semua kalangan.






