Menyusuri Braga Hingga Alun-alun Bandung di Sore Hari

Posted on

Sore itu saat libur panjang, Minggu (18/1/2025). Jalan Braga tak pernah benar-benar sepi. Langkah kaki bergantian mengisi trotoar lebar yang kini lebih ramah pejalan kaki.

Dari kejauhan, deretan bangunan tua bergaya art deco berdiri seperti saksi bisu perjalanan panjang Bandung kokoh, sedikit kusam, tapi tetap anggun. Di salah satu sisi jalan, lukisan-lukisan berjejer rapat.

Harimau dengan tatapan tajam, bunga warna-warni yang seolah hidup, hingga lanskap pedesaan yang menenangkan mata. Para pelukis dan penjualnya berdiri santai, sesekali berdiskusi dengan calon pembeli.

Tidak ada paksaan, hanya obrolan ringan tentang warna, tentang makna, atau sekadar soal cuaca sore itu. Beberapa langkah dari sana, Braga menunjukkan wajah lain.

Anak muda berjalan beriringan, sebagian berhenti untuk berfoto, sebagian lagi larut dalam percakapan. Suasana terasa santai, nyaris tanpa tergesa. Jalan ini seakan memberi izin untuk berjalan lebih pelan, menikmati setiap detail yang sering luput diperhatikan. Lampu jalan bergaya klasik mulai menyala perlahan, berpadu dengan langit yang berwarna lembayung pucat.

Pepohonan tua menaungi trotoar, memberi kesejukan di tengah hiruk pikuk kota. Kendaraan masih melintas, tapi tidak mendominasi. Braga sore hari terasa seimbang antara kota yang bergerak dan ruang yang mengajak berhenti sejenak.

Di persimpangan, layar besar menyapa dengan tulisan “Hello Braga!” sebuah sapaan sederhana, namun terasa pas.

Seolah mengingatkan bahwa kawasan ini bukan hanya tempat lewat, melainkan tempat pulang bagi kenangan, seni, dan cerita yang terus hidup. Braga hari ini bukan sekadar jalan bersejarah.

Ia adalah ruang temu: antara masa lalu dan kini, antara seni dan keseharian, antara langkah yang datang dan pergi. Dan di sore yang tenang seperti ini, Braga kembali menunjukkan pesonanya pelan, hangat, dan apa adanya.

Beranjak mendekati kawasan alun-alun, ritme kota terasa berubah. Jika Braga mengajak melambat, area ini justru memperlihatkan denyut Bandung yang sesungguhnya padat, bergerak, dan hidup hampir sepanjang waktu.

Kendaraan mengalir rapat, sepeda motor berseliweran, sesekali terhenti oleh lampu lalu lintas yang tak pernah benar-benar memberi jeda lama. Di sisi trotoar, pejalan kaki berjalan berlawanan arah dengan arus kendaraan.

Ada yang baru turun dari angkutan, ada yang sekadar melintas, ada pula yang sengaja datang untuk menikmati suasana pusat kota. Pot-pot tanaman dan jalur sepeda hijau menjadi penanda bahwa ruang ini tetap memberi tempat bagi pejalan kaki, meski berada di jantung lalu lintas.

Bangunan lama dengan dinding putih dan jendela-jendela besar berdiri berdampingan dengan mural dan tulisan “Bandung Heritage” sebuah pengingat bahwa kawasan ini bukan sekadar simpang jalan, melainkan bagian dari sejarah kota.

Di sela kemacetan, angkot dan kendaraan pribadi berbagi ruang dengan bus wisata berwarna merah yang mencolok, menambah kesan bahwa area ini adalah titik temu banyak cerita.