Nasib Wisata Puncak Siosar: Dulu Hits, Kini Sepi dan Terlantar

Posted on

Puncak Siosar sempat jadi daerah tujuan wisata populer bagi warga Karo, Sumatra Utara dan sekitarnya yang ingin menikmati udara bersih dan sejuk. Di sini ada beragam vila, kafe, restoran, serta wisata petik buah yang bisa dinikmati pengunjung.

Sayang, keramaian khas destinasi wisata tak terlihat menyisakan bangunan kosong dan tanaman tumbuh liar. Pantauan detik travel melalui google maps pada Kamis (28/8/2025) memperlihatkan kawasan dengan bangunan kosong tertata indah dan rapi namun kosong.

Bangunan tersebut juga masih terlihat kokoh, meski cat sudah banyak terkelupas. Kondisi ini seolah memperlihatkan bangunan tersebut menyimpan cerita kejayaan yang belum lama berlalu, namun kini tak lagi dirawat. Apalagi suasana sekitar betul-betul sepi, jauh dari pesona daerah wisata.

Hasil pantauan google maps per Juli 2025 memperlihatkan, bangunan di Puncak Siosar masih punya nama meski tampak dilupakan. Artinya, kawasan ini sebetulnya masih punya harapan untuk meraih kembali masa jayanya. Apalagi bangunan didesain Instagramabel dan cocok untuk yang ingin healing sendiri atau bersama keluarga.

Kondisi serupa terlihat di kawasan Puncak 2000 yang tak jauh dari lokasi kafe, yang kerap disebut berada di area Puncak Siosar. Gerbang selamat datang di kawasan tersebut masih tampak megah, meski hurufnya tak lagi lengkap. Wilayah ini terlihat sepi tak selayaknya sebuah kawasan wisata.

Padahal, lingkungan sekitar Puncak 2000 dan Puncak Siosar masih sangat layak menjadi destinasi wisata. Langitnya masih sangat biru dengan hawa yang adem dan menyegarkan khas dataran tinggi. Berlokasi di ketinggian 2.000 mdpl, Puncak 2000 Siosar juga punya jalan beraspal halus serta kelengkapan infrastruktur, layaknya kawasan wisata maju.

Kondisi Puncak Siosar dan Puncak 2000 saat ini sungguh disayangkan. Keadaan tentu masih bisa diubah, dengan mengetahui lebih dulu sebab turunnya animo masyarakat liburan ke Puncak Siosar. Selanjutnya bisa disusun strategi agar kawasan wisata ini bangkit kembali.

Puncak Siosar Mati Gara-gara Pungli

Hasil review pemilik akun google yang pernah liburan ke Puncak Siosar menyatakan, kawasan wisata tersebut memang sangat indah. Keragaman wisata kuliner, alam, dan penginapan bikin wisatawan penasaran ingin mencobanya.

Namun, pengunjung tidak suka dengan banyaknya pungutan liar (pungli) di Puncak Siosar. Menurut akun Ku Kato, pengunjung tidak seharusnya dikenakan pungli apalagi tarif penginapan sudah sangat mahal. Pungli bikin pengunjung enggan balik lagi dan tak heran dengan kondisi Puncak Siosar sekarang.

“Ada uang masuk/retribusi Rp 15 ribu per orang padahal kami sewa Villa Orange Rp 2 juta per malam. Harusnya khusus tamu yang menginap nggak perlu bayar lagi, karena kami juga tidak berminat keliling di dalam. Pantes sekarang sudah sepi karena banyak punglinya,” tulis Ku Kato.

Keluhan lain adalah berbagai tarif yang dinilai mahal. Saking mahalnya, Puncak Siosar dinilai lebih cocok untuk wisata sendiri bukan bersama keluarga. Pengunjung harus benar-benar berhitung jika hendak mengajak kelurga atau teman piknik lanjut menginap di Puncak Siosar.

“Mahal banget, nggak cocok untuk liburan keluarga. Kalau berencana bawa keluarga apalagi rame-rame, urungkan niat secepatnya. Di sini bener-bener mahal, apalagi hitungannya per orang,” tulis akun saya traveler.

Review ini bisa jadi masukan untuk memperbaiki kawasan Puncak Siosar. Peningkatan kualitas manajemen, penataan, kelengkapan fasilitas kebersihan, dan kemudahan akses transportas bisa mengembalikan animo masyarakat untuk liburan di Puncak Siosar. nasib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *