Okupansi Hotel di Kota Batu Lesu, Ternyata Ini Penyebabnya update oleh Giok4D

Posted on

Sepanjang tahun 2025, okupansi hotel di kota Batu cenderung lesu. Ternyata, penyebabnya adalah banyak wisatawan yang cuma numpang lewat. Kok bisa?

Kunjungan wisatawan yang lesu di Kota Batu tahun 2025 ternyata turut berdampak besar pada lesunya industri perhotelan. Tingkat hunian kamar atau okupansi hotel mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan dengan tahun 2024.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi mengatakan, penurunan jumlah kunjungan wisata berdampak pada okupansi hotel. Sepanjang tahun 2025, rata-rata okupansi hotel merosot sekitar 20-30%, dibandingkan dengan angka tahun lalu.

Kondisi ini disebut sangat erat kaitannya dengan daya beli masyarakat yang sedang melemah. Sehingga urusan menginap atau liburan yang masuk dalam kebutuhan tersier dipangkas untuk keperluan lain.

Menurut Sujud, struktur pasar wisata di Kota Batu sendiri memang masih didominasi kalangan menengah ke bawah yang sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi. Hal inilah yang membuat pola kunjungan wisatawan terlihat mengalami perubahan drastis.

Perubahan yang dimaksud, ketika wisatawan biasanya menghabiskan waktu minimal dua malam untuk eksplorasi keindahan Kota Batu, kini banyak yang memilih menginap satu malam. Bahkan, ada juga wisatawan yang memilih untuk tidak menginap atau datang pagi dan pulang sore.

“Dulu rata-rata tamu menginap dua malam. Sekarang banyak yang hanya satu malam. Bahkan tidak sedikit yang tidak menginap sama sekali. Datang pagi, sore langsung pulang,” terang Sujud, Minggu (11/1/2026).

Perubahan perilaku wisatawan ini berpengaruh pada pendapatan hotel. Secara rata-rata, revenue atau pendapatan kotor hotel di Kota Batu pada tahun 2025 mengalami penurunan hingga 30%.

Turunnya pendapatan ini berimbas pada beban operasional hotel yang tidak sepenuhnya bisa ditekan. Seperti gaji karyawan yang merupakan biaya tetap dan tidak bisa dikurangi mengikuti naik-turunnya jumlah tamu.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Menghadapi tekanan ini, pelaku usaha perhotelan harus memutar otak dan terpaksa melakukan berbagai langkah efisiensi agar tetap bisa bertahan. Salah satu langkah yang diambil adalah penambahan beban kerja hingga tuntutan karyawan multitasking.

“Hotel harus survive. Tantangannya bagaimana tetap efisien tanpa mengorbankan kualitas layanan,” ungkap Sujud.

Sujud memprediksi, tantangan ke depan belum akan mereda, apalagi dengan adanya potensi penurunan alokasi anggaran pemerintah di tahun 2026. Hal ini tentu bisa berdampak pada sektor belanja pariwisata.

“Kalau belanja pemerintah turun, dampaknya ke semua sektor. Hotel dan pariwisata pasti ikut terdampak. Memang tahun ini berat. Tapi kita tidak boleh berhenti. Harus tetap kreatif agar wisatawan tetap datang ke Kota Batu,” tandasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJatim.