Padang lamun di Bali yang semestinya menjadi hanya rumah bagi ikan dan terumbu karang, justru menjadi perangkap sampah. Pedihnya, sampah yang terjerat cukup tinggi di kawasan wisata.
Fakta itu diungkap oleh penelitian Putu Satya Pratama Atmaja dkk. berjudul Akumulasi Sampah Makro di Padang Lamun pada Berbagai Tingkat Tekanan Pariwisata di Bali. Penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Regional Studies in Marine Science pada Mei 2025.
Dari penelitian itu, Putu mendapati struktur kanopi padang lamun yang rapat membuat sisa plastik, botol, dan limbah lainnya mudah tersangkut, terutama di area yang ramai dikunjungi wisatawan. Kondisi itu menimbulkan risiko serius bagi ekosistem laut sekaligus mengancam keindahan pesisir Bali.
Padang lamun adalah tanaman laut berbentuk rumput yang tumbuh di perairan dangkal pesisir. Selain mempercantik lanskap bawah laut, padang lamun memiliki peran penting, yakni menjadi habitat ikan, penyu, dan hewan laut lainnya, menyerap karbon, serta melindungi pantai dari abrasi. Sayangnya, struktur padang lamun yang rapat juga membuatnya rentan menjadi tempat menumpuknya sampah laut, terutama plastik.
Penelitian oleh Putu dkk di Bali itu dilakukan untuk mengevaluasi seberapa banyak sampah makro menumpuk di padang lamun di area dengan tingkat pariwisata rendah, menengah, dan tinggi.
Sampah dikumpulkan menggunakan metode transek-kuadrat, kemudian dianalisis berdasarkan jenis, komposisi, dan kondisinya, apakah masih utuh atau sudah terfragmentasi. Kualitas lingkungan juga dinilai menggunakan beberapa indeks, yaitu Clean Coast Index (CCI), Hazardous Anthropogenic Litter Index (HALI), dan Plastic Abundance Index (PAI).
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan dalam jumlah sampah antar zona. Area dengan intensitas pariwisata tinggi, seperti Sindhu dan Semawang, mencatat densitas sampah tertinggi, rata-rata 0,304 item/m². Sampah di sini didominasi oleh plastik konsumsi dan limbah perikanan.
Sebaliknya, area dengan pariwisata rendah cenderung memiliki sampah yang sudah terfragmentasi, menandakan material lama yang terbawa dari tempat lain.
Indeks CCI, HALI, dan PAI juga menunjukkan pola serupa, yakni semakin ramai wisatawan, semakin tinggi akumulasi plastik, sampah berbahaya, dan kualitas lingkungan yang menurun. Kondisi itu menunjukkan bahwa tekanan manusia secara langsung mempengaruhi kondisi padang lamun.
Selain faktor manusia, karakteristik ekosistem juga berpengaruh. Spesies lamun dengan kanopi rapat, seperti Thalassia hemprichii dan Syringodium isoetifolium, ternyata menahan lebih banyak sampah dibandingkan lamun yang kanopinya lebih jarang. Artinya, padang lamun malah berfungsi seperti “magnet” bagi sampah laut, terutama plastik.
“Penemuan ini menegaskan pentingnya strategi manajemen sampah dan konservasi terpadu. Mengurangi polusi plastik di pesisir tidak hanya menjaga kesehatan ekosistem laut, tapi juga mendukung keberlanjutan pariwisata di Bali. Jika padang lamun tetap sehat, ekosistem laut terjaga, dan pesisir tetap indah untuk dikunjungi generasi mendatang,” kesimpulan dalam penelitian Putu dkk.
Melindungi padang lamun berarti melindungi masa depan laut Bali. Dengan kesadaran wisatawan dan pengelolaan sampah yang lebih baik, pulau dewata bisa terus menjadi surga bawah laut sekaligus destinasi wisata yang bersih dan lestari.






