Peringkat Indeks Kesehatan Laut RI Naik, tapi….

Posted on

Indeks Kesehatan Laut Indonesia mengalami kenaikan. Tapi faktanya, kenaikan itu tidak diikuti dengan membaiknya kondisi laut buat kesejahteraan masyarakat.

Indonesia mengalami kenaikan peringkat dalam Indeks Kesehatan Laut atau Ocean Health Index (OHI). Indeks Kesehatan Laut merupakan nilai estimasi untuk menunjukkan status kesehatan ekosistem laut dalam suatu area atau batasan geografis tertentu dan dalam waktu tertentu.

Peringkat indeks kesehatan laut Indonesia pada 2026 mengalami peningkatan. Sebelumnya, Indonesia berada di peringkat 189 pada 2025. Tahun 2026 ini, peringkat Indonesia naik menjadi peringkat 168 dari 220 negara.

Sementara skor OHI nasional Indonesia tercatat sebesar 66. Angka itu masih berada di bawah rata-rata global, yakni sebesar 72.

Meski terjadi kenaikan peringkat, namun dari sepuluh indikator penyusun OHI, ada beberapa indikator yang mengalami penurunan. Salah satunya adalah indikator penyediaan makanan yang mencatat skor terendah sebesar 24.

Menurut Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, seharusnya sektor kelautan dan perikanan harus menjadi pilar utama dalam hal kemandirian pangan sesuai visi Presiden Prabowo.

Dalam konteks ini, Prof. Achmad Tjachja pun mendorong Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk lebih giat dan progresif dalam menghadirkan teknologi maritim ke wilayah pesisir, mulai dari sistem informasi cuaca dan oseanografi, alat tangkap ramah lingkungan, kapal penangkap ikan berteknologi efisien, hingga fasilitas cold storage dan logistik rantai dingin.

“Peran KKP sangat krusial. Pengadaan teknologi maritim harus benar-benar menjangkau kampung nelayan agar nelayan kecil mampu meningkatkan produktivitas, keselamatan, dan nilai tambah hasil tangkapan,” jelasnya.

Menurut dia, pemanfaatan data hidro-oseanografi yang akurat dan berkelanjutan merupakan kunci utama modernisasi sektor kelautan. Ia juga menekankan pentingnya memaksimalkan peran Pushidrosal TNI AL dalam penyediaan peta laut dan data oseanografi yang terintegrasi dengan kebijakan pembangunan perikanan nasional.

“Data oseanografi bukan hanya untuk keselamatan pelayaran, tetapi juga menentukan efisiensi penangkapan ikan, perencanaan wilayah tangkap, dan adaptasi nelayan terhadap perubahan iklim laut,” kata Ketua Umum KASAI ini.

Sedangkan untuk indikator perlindungan pesisir, skor Indonesia mengalami penurunan menjadi 79 poin. Itu menunjukkan masih banyak praktik budi daya dan alat tangkap tidak ramah lingkungan yang berdampak pada kualitas ekosistem laut di Indonesia.

Melalui pengukuran menyeluruh dari sisi ekologi, sosial ekonomi, hingga tata kelola, Indeks Kesehatan Laut membantu kita memahami kondisi laut, melacak perubahannya, sekaligus merancang kebijakan yang lebih tepat.

Tujuannya untuk memberikan dasar informasi agar laut terus memberi manfaat bagi masyarakat yaitu sebagai sumber pangan, peluang usaha, pelestarian spesies dilindungi, penyimpanan karbon, hingga potensi wisata bahari.