Pesan Mendalam Mangkunegara X: Jalani Hidup dengan Eling lan Waskita

Posted on

Dalam acara Tingalan Jumenengan ke-4, Mangkunegara X memberikan pesan yang mendalam tentang kehidupan, yaitu jalanilah hidup dengan Eling lan Waskita.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X membacakan Sabda Dalem dalam rangkaian Tingalan Jumenengan ke-4. Dalam pidatonya, dia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menemani perjalanan Pura Mangkunegaran di bawah kepemimpinannya.

Mangkunegara X merefleksikan bahwa selama empat tahun menjabat, terdapat banyak tantangan sekaligus pencapaian. Baginya, masa empat tahun tersebut telah mempertemukan semua pihak dalam rasa syukur dan kebersamaan.

“Terima kasih atas harapan dan dukungan yang telah menyertai perjalanan Mangkunegaran selama empat tahun ini. Perjalanan yang penuh tantangan dan juga pencapaian yang mempertemukan kita hari ini dalam rasa syukur dan kebersamaan,” ujar Mangkunegara X saat membacakan Sabda Dalem, Selasa (27/1/2026).

Ia menyampaikan keyakinannya bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dikejar dengan tergesa-gesa, melainkan dijalani sebagai sebuah proses spiritual atau laku. Kebahagiaan tidak terlahir dari pencapaian semata, melainkan dari cara manusia menata batin.

“Kita percaya bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang dikejar dengan tergesa, melainkan dijalani sebagai suatu laku. Ia tidak lahir dari pencapaian semata, tetapi dari cara manusia menata batin, bersikap dengan jernih, dan memaknai perjalanan hidupnya dari hari ke hari,” tuturnya.

Mangkunegara X menekankan bahwa kebahagiaan berawal dari kesadaran diri terhadap sesama dan lingkungan. Kesadaran tersebut diharapkan mampu menghadirkan sikap ingat dan waspada.

“Kebahagiaan berawal dari kesadaran akan diri sendiri, akan sesama, dan akan lingkungan. Dengan kesadaran, manusia mampu hadir sepenuhnya pada saat ini, eling lan waskita, sehingga setiap budi, rasa, dan laku berjalan dengan selaras serta tanggung jawab terhadap kehidupan bersama,” ucapnya.

Ia juga menyinggung mengenai pentingnya tata krama sebagai cara manusia untuk memanusiakan manusia lainnya. Melalui tata krama, diharapkan muncul rasa saling menghargai satu sama lain.

“Dari kesadaran yang hidup, terpancar tata krama. Sikap hormat, andap asor, dan keramahan bukan sebagai kebiasaan lahiriah, melainkan pancaran dari suatu hati yang sadar. Tata krama adalah cara memanusiakan manusia dan menjaga ruang hidup agar tetap rukun, tenteram, dan saling menghargai,” terangnya.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gusti Bhre ini berpesan bahwa dalam menjalani hidup, seseorang harus memiliki tujuan tanpa kehilangan arah dan cara. Ia mengibaratkan hal ini dengan filosofi penunggang kuda.

“Dalam menjalani hidup, seorang manusia harus memiliki suatu tujuan tetapi tidak boleh kehilangan arah dan cara. Seperti falsafah penunggang kuda, arah perlu dipahami, melangkah dengan konsisten, serta kerja keras yang dijalani dengan ketekunan,” bebernya.

Ia menambahkan bahwa kebahagiaan tidak hidup dalam kesendirian, melainkan tumbuh dalam kebersamaan dan dirawat melalui kesederhanaan. Di akhir Sabda Dalemnya, ia berharap ke depan Pura Mangkunegaran tidak hanya dipandang sebagai bangunan fisik, namun sebagai sebuah “rumah” bagi semua orang.

“Semoga Mangkunegaran bukan hanya sebagai wadah fisik, bukan hanya sekadar bangunan dan tembok, namun menjadi tempat di mana kita bisa merasakan apa arti rumah itu sesungguhnya. Sekali lagi, terima kasih sebesar-besarnya atas empat tahun terakhir. Sehat selalu. Matur nuwun sanget,” pungkas Mangkunegara X.

——–

Artikel ini telah naik di detikJateng.