Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan menggelar prosesi tahunan yakni Peringatan Ulang Tahun Kenaikan Takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem Raja Keraton Sri Sultan Hamengku Bawono X. Lantaran bertepatan dengan tahun Dal, maka akan ada prosesi yang berbeda di tahun-tahun lainnya.
Tingalan Jumenengan Dalem sendiri jatuh setiap tanggal 29 Rejeb dalam kalender Jawa Sultanagungan yang bertepatan dengan Minggu Kliwon, 18 Januari 2026 atau 29 Rejeb Dal 1959. Tahun ini memperingati 38 tahun Sultan bertakhta.
Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa KRT Kusumonegoro menjelaskan bahwa prosesi Tingalan Jumenengan Dalem kali ini akan digelar sedikit berbeda dari biasanya, karena bertepatan dengan Tahun Jawa Dal. “Tahun Dal merupakan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW,” jelas Kanjeng Kusumo.
Perbedaan yang pertama, jika biasanya Keraton Jogja mengadakan Labuhan Alit (Patuh) di tiga tempat yakni Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu, di tahun Dal 1959 ini bertambah satu lokasi untuk labuhan yakni di Dlepih, Kabupaten Wonogiri.
“Khusus Labuhan Ageng, lokasi labuhan selain tiga tempat tersebut di atas, masih ada satu tempat lagi yaitu Dlepih Kayangan di Kabupaten Wonogiri,” jelas Kanjeng Kusumo.
Keberadaan Petilasan Dlepih ini, ujar Kanjeng Kusumo, senantiasa mengingatkan raja yang bertakhta untuk menjaga marwah para leluhur. Selain Panembahan Senopati, tempat ini juga pernah digunakan untuk bertapa raja-raja Mataram dan raja Kasultanan Yogyakarta, yaitu Sultan Agung Hanyakrakusumo dan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I).
Dalam pelaksanaannya, Keraton Jogja melabuh benda-benda tertentu yang disebut sebagai ubarampe labuhan. Pada tahun Dal 1959, ada ubo rampe tambahan yang tidak ada di tahun-tahun lainnya, yakni berupa songsong gilap (payung) yang turut disertakan dalam Labuhan Parangkusumo.
“Sementara itu terdapat ubarampe kambil watangan atau pelana kuda yang wajib disertakan dalam Labuhan Ageng di Gunung Merapi, serta dua songsong (payung) dalam Labuhan Lawu,” jelas Kanjeng Kusumo.
Berikut Rangkaian Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem Dal 1959:
1. Bucalan (27 Rejeb-Jumat 16 Januari 2026), sebuah prosesi 4 penjuru tapal batas wilayah inti (Kuthagara) berupa doa untuk keselamatan dan kelancaran rangkaian acara Tingalan Jumenengan Dalem.
2. Ngebluk (27 Rejeb-Jumat 16 Januari 2026), sebuah upacara mempersiapkan jladren-adonan apem. Konon kata apem berasal dari bahasa Arab “afwan” artinya maaf atau ampun, yang menyimbolkan permohonan ampun kepada Sang Pencipta.
3. Ngapem (28 Rejeb-Sabtu 17 Januari 2026), terdapat dua macam apem yang dibuat, yaitu apem mustaka (apem besar) dan apem alit (apem kecil).
4. Sugengan (29 Rejeb-Minggu 18 Januari 2026), tepat pada hari peringatan penobatan Sultan, Keraton Yogyakarta mengadakan acara Sugengan, yaitu upacara selamatan yang dihadiri kerabat keraton beserta Abdi Dalem. Upacara selamatan ini merupakan wujud syukur sekaligus memanjatkan doa dan permohonan kepada Tuhan Yang Mahakuasa untuk keselamatan Sultan, keluarga, keraton, Abdi Dalem dan segenap masyarakat.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
5. Labuhan Parangkusumo dan Dlepih (30 Rejeb-Senin 19 Januari 2026).
6. Labuhan Lawu dan Labuhan Merapi (1 Ruwah-Selasa 20 Januari 2026).
—
Artikel ini sudah tayang di detikJogja. Baca lebih lanjut di sini.






