Selain berzikir di Candi Prambanan, jemaah viral dari Jepara juga mengunjungi candi Borobudur. Mereka juga berzikir di candi Buddha tersebut.
Rombongan jemaah tersebut dipimpin oleh Ahmad Rifai (47), warga Desa Karangrandu, Kecamatan Penanganan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Jemaah ini jadi viral di media sosial karena tertangkap kamera sedang berzikir di Candi Prambanan. Alasan mereka cukup nyeleneh. Pertama mereka ingin melepaskan kutukan dari Bandung Bondowoso yang terikat sukma dengan Nyai Roro Jonggrang. Kedua ingin mendoakan leluhur yang ada di Candi Prambanan.
“Adapun yang di Candi Prambanan misi utama untuk melepas kutukan dari Aji Bondowoso yang terikat sukma dengan Nyai Roro Jonggrang dan untuk melepaskan itu,” ungkap Rifai.
“Dan mendoakan leluhur yang ada di sana,” lanjut dia.tu
Rombongan jemaah dari Jepara ini melakukan zikir di sejumlah lokasi pada 25 Desember 2025. Dengan mengendarai bus elf, mereka awalnya berangkat ke Pantai Parangtritis.
Setelah itu, rombongan bertolak menuju ke Candi Prambanan saat siang hari. Mereka sampai di Candi Prambanan pukul 11.00 WIB. Mereka pun menggelar zikir di pelataran candi. Rifai mengklaim itu adalah perjalanan spiritual.
“Dan adapun kejadian di Prambanan, di sisi lain, adalah perjalanan sebuah spiritual daripada leluhur yang memberikan tugas dan amanah untuk datang ke sana,” kata Rifai di padepokannya, Desa Karangrandu, Kamis (7/1/2026).
Selepas dari Candi Prambanan, dikatakan Ahmad Rifai, rombongannya sempat melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur. Dia pun melaksanakan kegiatan zikir di candi Buddha tersebut setelah tiba pada sore hari.
Ia mengatakan begitu tiba di candi Borobudur pihaknya izin kepada pengelola. Mereka mengaku telah disediakan tempat untuk berzikir dan tidak sampai viral.
“Kalau di Borobudur sore sampai sana, berdoa zikir, telah disediakan tempat, dan tidak sampai viral,” jelasnya.
Rifai mengaku tidak tahu jika kegiatan zikir di Candi Prambanan menjadi viral di media sosial. Dia tidak memiliki niat untuk terkenal.
“Kalau ada video viral itu saya tidak tahu, karena pada saat itu kita lagi khusus dan menikmati berzikir, dan saya pun tidak tahu ada orang yang merekam dan sampai disebarluaskan,” lanjut dia.
“Seandainya saya tahu saya larang, karena saya pengin tidak diketahui siapapun. Jemaah saya sendiri saya larang foto dan merekam dalam menjalan tugas,” dia melanjutkan.
——-
Artikel ini telah naik di detikJateng.






