Patung Macan Putih di Kediri sempat dibully akibat wujudnya yang gemoy. Namun siapa sangka, patung viral ini justru membawa berkah.
Patung yang berdiri di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang itu ternyata membawa dampak langsung terhadap tumbuhnya lapangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa tersebut. Padahal di media sosial, patung itu dibully lantaran wujudnya yang tidak gagah, malah cenderung imut dan gemoy.
Sejak bulan Desember 2025, kawasan sekitar patung macan putih ramai dipadati pedagang dadakan yang memanfaatkan tingginya kunjungan wisatawan.
Kepala Desa Balong Jeruk, Safi’i mengatakan keberadaan patung yang awalnya hanya sebagai ikon desa itu justru berkembang menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
“Alhamdulillah, pembuatan ikon patung Macan Putih ini ternyata membawa keberkahan bagi UMKM Desa Balongjeruk dan sekitarnya,” kata Safi’i, Sabtu (3/1/2026).
Beragam jenis usaha bermunculan di sekitar lokasi, mulai dari penjualan makanan dan minuman. Jumlah pedagang pun terus mengalami peningkatan.
“Kemarin mungkin sekitar 10 pedagang, sekarang setiap hari bertambah. Saat ini bisa lebih dari 100 pedagang yang berjualan di sekitar lokasi,” jelas Safi’i.
Penjual merchandise bertema macan putih dengan desain unik pun mulai menjamur. Beragam produk bertema Macan Putih dijajakan kepada para pengunjung seiring viralnya Patung Macan Putih berbadan gemoy itu.
Berbagai jenis merchandise dijual oleh warga, mulai dari kaos, stiker, balon hingga aksesoris kendaraan roda dua dan roda empat. Produk-produk itu banyak diminati pengunjung sebagai cendera mata setelah berfoto di kawasan Patung Macan Putih.
“Merchandise yang sudah dijual cukup banyak, seperti kaos, stiker, balon, sampai aksesori motor dan mobil,” jelas Safi’i.
Patung Macan Putih Membawa Berkah
Kaos bergambar Macan Putih dengan tampilan lucu itu juga dilengkapi tulisan I Love Balongjeruk. Sementara itu, harga merchandise bervariasi, dengan stiker dijual mulai Rp2.000 per buah.
Meski demikian, Pemerintah Desa Balong Jeruk mengakui masih menghadapi tantangan dalam penataan kawasan, terutama terkait keterbatasan lahan untuk parkir dan penempatan pedagang kaki lima (PKL).
Ia mengungkapkan harapannya agar Pemerintah Kabupaten Kediri bisa membantu untuk penataan PKL maupun parkir di destinasi wisata dadakan itu.
“Untuk sementara kami belum bisa melakukan penataan karena keterbatasan lahan. Di sekitar lokasi tidak ada lahan desa yang bisa dimanfaatkan untuk penataan PKL maupun parkir,” pungkas Safi’i.
——-
Artikel telah naik di detikJatim, bisa dibaca selengkapnya di sini dan di sini.
