Pagi-pagi, kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, mulai ramai sejak matahari belum terlalu tinggi. Di salah satu sudut kawasan seni dan budaya tersebut, Planetarium Jakarta menjadi magnet bagi pengunjung yang ingin menghabiskan waktu libur dengan cara berbeda: belajar sambil berwisata.
Antrean pengunjung terlihat mengular di depan loket. Wajah-wajah antusias tampak dari anak-anak hingga orang tua yang rela datang lebih pagi demi mendapatkan tiket. Rani, pengunjung asal Jakarta Selatan, mengaku sudah tiba sejak pukul 07.30 WIB.
Ia memilih membeli tiket secara langsung setelah gagal mendapatkan tiket daring. “Saya datang dari setengah delapan pagi buat beli tiket on the spot. Kemarin kehabisan tiket online, benar-benar war,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Rani, kunjungan ke Planetarium Jakarta bukan sekadar rekreasi, tetapi juga nostalgia. Terakhir kali ia datang bersama anak-anaknya adalah saat mereka masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
“Sekarang sudah SMP. Jadi rasanya senang bisa balik lagi ke sini,” tambahnya.
Di dalam area Planetarium, suasana edukatif terasa sejak awal. Planetarium Jakarta yang kini tampil dengan wajah baru menghadirkan teknologi proyeksi digital modern, konten astronomi yang lebih interaktif, serta pengalaman visual yang imersif.
Transformasi ini menjadikan Planetarium bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang rekreasi sains yang menyenangkan bagi seluruh kalangan. Dalam show, pengunjung akan merasakan seperti dibawa terbang ke luar angkasa menggunakan roket lalu melihat planet, dam bintang. Show planetarium ini menampilkan macam-macam planet, rasi bintang, galaksi, dan satelit.
Sebelum memasuki ruang pertunjukan, petugas memberikan sejumlah arahan kepada pengunjung. Telepon genggam diminta untuk disetel ke mode senyap. Pengunjung dilarang mengambil foto atau video, termasuk menggunakan lampu kilat, demi menjaga kualitas pertunjukan.
Minuman pun tidak diperkenankan dibawa masuk ke dalam studio dan harus diletakkan di meja depan. Pengunjung diminta memotretnya sebagai bukti saat pengambilan kembali.
Memasuki ruang pertunjukan, pengunjung diarahkan untuk mengisi kursi dari bagian belakang terlebih dahulu. Susunan kursi menyerupai bioskop, berjejer dan sedikit menurun ke belakang.
Untuk menikmati visual pertunjukan, kepala harus mendongak ke atas, mengikuti kubah besar tempat gambar-gambar tata surya dan angkasa diproyeksikan. Meski tiket daring telah dinyatakan habis dan penjualan on the spot terus berlangsung, masih terlihat beberapa kursi kosong di dalam studio. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kekhidmatan suasana saat pertunjukan dimulai.
Lampu perlahan meredup. Suara riuh anak-anak yang dipenuhi rasa penasaran terdengar memenuhi ruangan. Sesekali terdengar tawa dan seruan kagum ketika visual planet, bintang, dan galaksi muncul silih berganti di atas kepala.
Antusiasme mereka menjadi bagian dari pengalaman yang hangat dan hidup. Hanifah, pengunjung asal Jakarta Pusat, mengaku terkesan dengan pertunjukan yang disajikan.
Menurutnya, Planetarium Jakarta menjadi pilihan tepat untuk mengisi waktu libur sekolah. “Anak-anak senang sekali. Selain seru, juga sangat edukatif,” katanya.
Planetarium Jakarta menggelar empat pertunjukan setiap hari, masing-masing berdurasi sekitar 45 menit. Pertunjukan dimulai pukul 09.00 WIB, disusul jadwal siang dan sore hingga pertunjukan terakhir pada pukul 17.15 WIB. Pengunjung diimbau datang tepat waktu agar tidak mengganggu jalannya pertunjukan dan kenyamanan pengunjung lain.
Soal tiket, Planetarium Jakarta juga memberikan kemudahan bagi pelajar dan mahasiswa dengan tiket gratis selama tiga bulan. Sementara itu, pengunjung umum dikenakan tarif Rp 10.000.
Informasi terkait jadwal dan tiket dapat diakses melalui akun media sosial resmi Taman Ismail Marzuki di Instagram, @tim.cikini. Kunjungan ke Planetarium Jakarta pun menjadi pengalaman perjalanan singkat yang berkesan dengan perpaduan antara nostalgia, edukasi, dan kekaguman akan luasnya semesta, tepat di jantung kota Jakarta.
