Tahura Pancoran Mas sedang Direvitalisasi, Kawal Bersama Yuk!

Posted on

Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas di Kota Depok sedang direvitalisasi, dijanjikan memiliki jogging track dan danau kecil. penasaran nggak sih sejauh apa prosesnya saat ini?

Tahura Pancoran Mas di Jalan Raya Cagar Alam Nomor 54, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat itu direvitalisasi menjadi destinasi wisata edukatif dan penelitian, serta untuk olahraga. Selain itu, taman itu dijanjikan nyaman buat satwa dan tetap mempertahankan keanekaragaman hayati.

Imam Mahdi, salah satu pengawas di Tahura Panmas, mengatakan bahwa pembangunan kembali area itu akan selesai sepenuhnya pada akhir 2027.

“Rencananya di tahun sekarang, 2026, ini revitalisasi. Rampung pada 2027 akhir, saat itu udah bisa dinikmati lah ya, tapi kita nggak tahu kan perjalanan itu entah ada apa, gimana, apa gimana. Tapi kalau untuk ke depannya itu ada jalur track (track jogging), terus pagar lagi di sana, akses kayak seperti gerbang utama, jadi ada dua alternatif,” ujar Imam kepada detikTravel di lokasi, Selasa (13/1/2026).

Melansir postingan Instagram @kuncenalunalun (29/12/2025), revitalisasi melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Disrumkim) Kota Depok, sudah dimulai dengan pembangunan pagar Tahura sebagai salah satu upaya menjaga keamanan. Nantinya, gerbang kedua di sisi selatan akan difungsikan untuk jalur logistik dan evakuasi darurat.

“Pagar itu fungsinya buat nanti logistik seperti tanaman baru datang yang ukuran lumayan besar, dan seperti pupuk gitu kan. Entah itu evakuasi manusia kan di sana terjadi apa-apa kita biar bisa cepat langsung dibawa keluar kan gitu, itu gerbang dua nanti di sana di selatan,” kata Imam.

Sendang atau Danau Kecil

Salah satu sorotan menarik dalam revitalisasi ini adalah rencana pembangunan ‘sendang’ atau situ kecil di blok yang rawan banjir. Sendang ini bukan sekadar hiasan, melainkan memiliki fungsi vital bagi ekosistem.

“itu juga di sana di sudut sana yang blok zat banjir itu bakal dijadiin seperti sendang. Sendang itu kayak situ kecil gitu, penampungan air,” kata Imam.

Imam menambahkan sendang itu berfungsi sebagai tempat minum satwa dan habitat hewan air. Selain itu, sendang disiapkan sebagai cadangan air darurat (shelter) untuk antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran hutan.

“Jadi ketika nanti musim hujan agak lama, di situ ada semacam kayak air. Ya fungsinya sih untuk apa ya, untuk satu, hewan itu bisa ada di situ gitu kan yang kita tahu hewan apa gitu yang ada suka di air gitu kan, entah itu dia buat minum, entah itu buat apa,” kata Imam.

“Kedua, kalau memang air itu tetap berada bisa awet gitu kan tiap tahunnya gitu, ya itu antisipasinya ketika terjadi nanti kebakaran gitu loh di lokasi tertentu gitu loh, jadi sumber air tuh ada gitu loh. Sendang shelter darurat gitu, kalau untuk luas dan kedalamannya kita masih belum tahu detil ya nanti untuk gambarannya rencananya,” dia menambahkan.

Koleksi Tanaman Langka dan Zonasi Kawasan

Tahura Pancoran Mas dibagi menjadi beberapa blok, yakni Blok Koleksi, Blok Perlindungan, dan Blok Khusus. Di Blok Koleksi, pengunjung nantinya bisa menemukan berbagai tanaman endemik dan tanaman yang ditata bekerja sama dengan IPB.

Imam merinci beberapa tanaman yang ada seperti rasamala, rotan besar, rotan badak, cemara laut, bisbul, hingga matoa.

“Di situ ada lagi Kikonneng. Kikonneng itu jenis tanaman merambat ya, tapi yang akarnya kalau di Kalimantan tuh akar Bajakah, ya kalau di sini ya itu Kikonneng tuh,” kata Imam sambil menunjukkan tanaman tersebut.

Sementara itu, Blok Khusus adalah area yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga, situs sejarah, atau area yang dilintasi instalasi utilitas seperti kabel listrik dan pipa air. Sedangkan Blok Perlindungan dibiarkan alami dengan intervensi minim.

Meski dibuka untuk umum, konsep wisatanya bukan pariwisata massal, melainkan wisata terbatas dan edukasi. Area UMKM pun akan dibatasi hanya di area gerbang utama (kantor dinas) agar tidak mengganggu ekosistem hutan.

“Tapi ya terbatas. UMKM itu ya cuma hanya ada di sana nanti, gerbang yang rumah tadi tuh, kantor dinas. Enggak ada lagi tuh, kayak di sana di sana di sana enggak ada,” kata Imam.

Imam mengakui masih ada tantangan dalam pengelolaan Tahura Panmas. Salah satu yang paling krusial adalah kurangnya tenaga ahli spesifik seperti botanis atau pakar satwa.

Selama ini, para petugas belajar secara otodidak dari internet atau bertukar ilmu dengan mahasiswa, seperti dari UI, IPB, dan lainnya, yang sering melakukan penelitian di sana.

“Karena kan enggak semuanya buat wisata aja, kadang-kadang kan buat edukasi pendidikan juga. Kayak anak-anak sekolah alam, nanya tanamannya, nanya hewannya gitu. Nah kalau ada satu beberapa tim ahli enak gitu lho. Jadi kita kayak enggak kebingungan gitu kan, iya kan enggak kaku,” ujar Imam.

“Ya saya sendiri sih kenapa kok juga bisa tahu gitu, ya karena kan di sini, kedua juga kita juga saling belajar nih. Antara mahasiswa sama saya dia kasih tahu sedikit, ini kayak gini nih Bang, ini gini, ngisi saling saling ngisi gitu,” kata Imam.

Bagi traveler yang ingin berkunjung untuk edukasi atau sekadar lari pagi, jogging track sedang disiapkan agar pengunjung bisa menikmati suasana hutan tanpa merusak area konservasi inti.