Liburan ke Jepang tak hanya tentang menikmati bunga sakura dan kuliner khasnya. Turis juga perlu memahami tata krama agar dianggap sopan dan tidak mengganggu warga setempat.
Dilansir dari National Geographic, Selasa (13/1/2026) berikut beberapa tindakan yang bisa dilakukan traveler saat di Jepang, supaya liburan nyaman dan warga lokal pun respek. Selain itu, traveler bisa mempraktikkan langsung budaya di sana.
1. Terkait tepat waktu dan memberi salam
Orang Jepang sangat tepat waktu dan seringkali datang lebih awal, jadi cobalah untuk tidak terlambat bertemu pemandu wisata, taksi yang sudah dipesan sebelumnya, atau reservasi restoran ya.
Membungkuk adalah salam yang biasa, tetapi kamu tidak perlu melakukan sesuatu yang berlebihan dan anggukan kepala kecil sudah cukup. Jika ditawari jabat tangan, lakukan dengan ringan dan singkat.
Jika traveler diberi kartu nama, terimalah dengan kedua tangan dan pegang dengan hati-hati sampai memasukkannya ke dalam dompet. Karena bagi orang Jepang, tidak menghormati kartu nama, sama dengan tidak menghormati orang tersebut.
Nah, saat mengucapkan nama seseorang misalnya, nama pemandu wisata kamu, bisa tambahkan –san di akhir untuk menunjukkan rasa hormat. Misalnya, Hiroko-san.
2. Saat makan
Bila traveler datang ke restoran, biasanya dimulai dengan handuk basah panas atau dingin. Nah, gunakan untuk menyeka tangan ya (bukan wajah), lalu lipat kembali dan kembalikan ke piring untuk membersihkan jari-jari selama makan.
Saat mengambil dan memilih makanan dari hidangan bersama di meja, gunakan bagian belakang sumpit Anda, bukan ujung untuk makan. Dan tidak apa-apa untuk menggigit makanan dengan sumpit, kamu tidak harus menghabiskan semuanya dalam satu gigitan kok.
Makanan yang disajikan dalam piring kecil terpisah biasanya harus dimakan secara terpisah, tetapi ada pengecualian. Dan jangan ragu untuk bertanya jika tidak yakin.
Di restoran yang menyajikan hidangan yang bisa dimasak sendiri seperti okonomiyaki (sejenis pancake gurih), atau di tempat-tempat khusus seperti kedai teh, kamu biasanya akan diberi petunjuk tentang apa yang harus dilakukan. Bahkan orang Jepang pun sering bertanya, jadi jangan malu.
Hanya ada dua hal yang benar-benar menyinggung saat makan di Jepang, pertama memberikan makanan dari sumpit kamu langsung ke orang lain. Kedua meninggalkan sumpit yang tertancap ke atas di dalam mangkuk nasi. Hal ini mengingatkan pada ritual pemakaman Jepang.
Meskipun menyeruput minuman yang dibawa pulang umumnya tidak masalah, mengunyah sambil berjalan dilarang kecuali selama perjalanan kereta api yang panjang, di mana membawa bekal piknik adalah hal yang biasa. Ingatlah untuk membawa semua sampah karena merupakan bagian dari budaya Jepang untuk selalu membersihkan dan tidak meninggalkan jejak.
3. Saat di transportasi
Traveler harus tahu, saat di kereta api dan metro, bagi warga Jepang keheningan adalah emas. Tidak ada percakapan keras, musik, atau panggilan telepon dan penumpang harus selalu duduk di tempat duduk yang telah ditentukan, meskipun ada tempat duduk lain yang kosong.
Orang Jepang menghindari membawa koper besar, biasanya mengirim ke tujuan menggunakan layanan pengiriman domestik yang murah dan andal, Takuhaibin. Kamu juga bisa memanfaatkan pengiriman yang disediakan hotel.
Jika naik taksi, jangan sentuh pintu mobil karena pengemudi akan mengoperasikan mekanisme buka dan tutupnya untuk kamu.
4. Pembayaran
Walau pembayaran dengan kartu sudah lama digunakan di Jepang, tetapi uang tunai masih menjadi raja, terutama di luar Tokyo. Bawalah banyak uang tunai dan pastikan uang kertas tetap rapi dan tidak terlipat, seperti baru.
5. Onsen & pemandian umum
Tak afdal rasanya berkunjung ke Jepang tanpa mencoba onsen atau pemandian air panas. Namun, aturan di onsen cukup ketat dan kerap membuat wisatawan bingung.
Karena itu, sejumlah hotel kini menyediakan pilihan yang lebih ramah bagi wisatawan asing, seperti pengalaman onsen privat atau aturan masuk yang lebih longgar. Salah satunya adalah Hotel Keiryu Oirase di Aomori, yang menyediakan onsen di beberapa suite-nya.
Carilah onsen dengan situs web berbahasa Inggris yang baik, yang menunjukkan tempat yang lebih sesuai dengan pasar internasional, dan mereka biasanya akan menyebutkan secara online apakah tato diperbolehkan. Secara tradisional, jenis kelamin dipisahkan dan tato dilarang.
Etiket onsen memang kompleks, tetapi hanya ada tiga ‘aturan’ utama yang perlu diingat, dan semuanya tentang menjaga kebersihan air agar orang lain dapat menikmatinya.
Pertama harus telanjang sepenuhnya (tidak diperbolehkan menggunakan handuk atau kain). Kedua, sebelum memasuki air, cuci tubuh secara menyeluruh dengan sabun di pancuran yang berdekatan. Dan terakhir, jangan pernah membiarkan kepala atau rambut kamu menyentuh air.
6. Berpakaian
Traveler perlu melepas sepatu untuk memasuki bangunan tertentu, termasuk banyak ryokan, restoran tradisional, dan kuil. Biasanya, ada petunjuk yang mengarahkan untuk melepas alas kaki di beberapa tempat kok. Biasanya nanti traveler akan diberikan sandal.
Ryokan dan hotel lain mungkin juga menawarkan ‘pakaian kamar’ untuk bersantai (bukan untuk dibawa pulang) yang dapat berupa yukata (kimono katun ringan) hingga jinbei (atasan bergaya kimono dan celana pendek panjang).
Traveler dapat mengenakannya di mana saja di hotel, termasuk di area onsen dan untuk makan di dalam hotel. Terkadang piyama juga akan ditawarkan, tapi hanya untuk dikenakan di dalam kamar.
Masker medis sudah umum di Jepang jauh sebelum pandemi dan jika kamu sedikit pilek pun, akan sangat sopan untuk mengenakannya di tengah bepergian atau di ruang publik.
