Kementerian Transportasi Jepang mengungkapkan tahun 2025, Jepang mencatat 42,7 juta kedatangan wisatawan. Jumlah ini melampaui rekor tahun 2024 yang mencatat 37 juta kedatangan.
Dilansir dari Japan Today, Jumat (23/1/2026) pariwisata Jepang sebenarnya was-was terkait hubungan diplomatik antara Jepang dan China yang memburuk sejak bulan November. Bahkan pemerintah China sampai melarang warganya liburan ke Jepang.
China telah menjadi sumber wisatawan terbesar ke kepulauan Jepang, dengan hampir 7,5 juta pengunjung dalam sembilan bulan pertama tahun 2025. Jumlah ini seperempat dari seluruh wisatawan asing yang datang ke Jepang. Angka yang besar, bukan? Ditambah lagi turis China dikenal royal berbelanja.
Pada bulan Desember 2025, Badan Pariwisata Jepang atau Japan National Tourism Organization/JNTO mengatakan jumlah turis dari China sebanyak 330.300 orang. Angka ini semakin menurun, mengingat pada bulan November, 562.600 orang dan pada Oktober di angka 715.700 orang.
Menteri Transportasi Yasushi Kaneko mengatakan angka ini menjadi pencapaian signifikan, di mana jumlah pengunjung secara keseluruhan telah melampaui 40 juta orang untuk pertama kalinya. Kedatangan meningkat dari Australia, Eropa, dan Amerika Serikat.
“Meskipun jumlah wisatawan China pada bulan Desember menurun, kami menarik cukup banyak orang dari banyak negara dan wilayah lain untuk mengimbangi hal itu,” katanya.
“Kami juga berharap dan ingin memastikan bahwa wisatawan Tiongkok akan kembali kepada kami sesegera mungkin,” tambah Yasushi.
Peningkatan secara keseluruhan ini tidak lepas dari upaya promosi yang jor-joran. Pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk mencapai 60 juta wisatawan setiap tahunnya pada tahun 2030.
Adapun PR yang harus dikerjakan pariwisata Jepang yaitu meratakan penyebaran turis. Saat ini mereka dihadapkan dengan masalah overtourism di tempat-tempat populer seperti Kyoto dan Gunung Fuji. Belum lagi dengan masalah turis-turis nakal yang membuat warga lokal jengah.
