Industri pariwisata es dan salju di China tengah mengalami fase yang positif, menjadi sebuah daya tarik dan kantung pendapatan yang potensial.
Menurut Akademi Pariwisata China (CTA), hingga akhir 2025 lalu tercatat 14.075 perusahaan bergerak di sektor tersebut dan menjadi rekor tertinggi.
Pertumbuhan pesat tersebut dipicu oleh semakin banyaknya produk wisata yang inovatif, mulai dari seni pahat es, fotografi musim dingin, hingga wisata tematik yang tersebar di berbagai kota.
Dikutip dari The Star, Kamis (15/1/2026) destinasi ikonik seperti Harbin Ice-Snow World dan resor ski Changbai Mountain menjadi magnet utama, menarik wisatawan lokal maupun internasional.
Peneliti CTA, Han Yuanjun, mengatakan inovasi semacam ini menjaga minat wisatawan tetap tinggi. “Permintaan terhadap wisata es dan salju masih sangat kuat,” kata Han.
Survei CTA menunjukkan 74,8% responden berencana mengikuti aktivitas musim dingin 2025-2026 dan 50,5% siap melakukan perjalanan jarak jauh untuk menikmati pengalaman tersebut. Menariknya, pola pengeluaran wisatawan juga mulai berubah.
Tak hanya untuk transportasi dan hotel, kini mereka lebih banyak membelanjakan uang untuk hiburan, pengalaman budaya, dan teknologi, menandai peningkatan kualitas pariwisata musim dingin di China.
Selain wisata outdoor, hiburan indoor juga makin diminati. Di China Selatan misalnya, menginvestasikan 30 miliar yen (Rp 72,61 triliun) pada 2025 atau sekitar 30% dari total investasi nasional di sektor ini.
Kompleks wisata indoor ini pun membuat kunjungan bisa terjadi selama setahun penuh, tak terbatas musim dingin.
Peneliti CTA lainnya, Liu Huaxiang, menyoroti bagaimana China telah membangun rantai industri es dan salju yang lengkap, mulai dari budaya, olahraga, hingga produksi peralatan.
“Produk dalam negeri seperti ski, papan seluncur salju, dan lilin salju kini semakin mendunia melalui perdagangan elektronik lintas batas,” ujar Liu.
Hal itu membuka peluang baru untuk kerja sama internasional sekaligus mendorong pertumbuhan industri lebih luas. Pemerintah China sendiri menempatkan ekonomi es dan salju sebagai motor utama pembangunan dan konsumsi.
Pemerintah menegaskan akan terus memperluas pasokan barang dan jasa berkualitas tinggi, yang diprediksi membuat pariwisata musim dingin semakin dinamis. Awal pekan ini, Festival Es dan Salju Harbin ke-42 dibuka di Harbin Ice-Snow World, taman es terbesar di dunia.
Selama libur tahun baru, kota tersebut disambangi lebih dari 4,1 juta wisatawan dengan total belanja mencapai 5,56 miliar yen (Rp591,47 miliar).






