Menjelang Olimpiade Musim Dingin bulan depan, warga Alpen Italia mulai resah. Sorotan global dan promosi di media sosial dikhawatirkan memicu pariwisata berlebihan, yang membebani alam pegunungan dan mengubah lokasi tenang menjadi latar swafoto.
Ajang olahraga ini akan digelar di Milan dan Cortina d’Ampezzo, kota pegunungan yang dikelilingi Pegunungan Dolomit-Situs Warisan Dunia UNESCO, dengan pertandingan tambahan di Predazzo, Tesero, dan Anterselva. Panitia menilai dampak lingkungan bisa ditekan karena sebagian besar venue sudah ada, dan tetap memberikan manfaat ekonomi dan infrastruktur.
Namun sejumlah pejabat lokal dan kelompok lingkungan khawatir tren ini makin parah. Lokasi yang dulu sepi seperti punggung bukit Seceda dan Danau Sorapis, kini viral dan diserbu wisatawan.
Melansir Reuters, Selasa (20/1/2026) pendaki legendaris Italia, Reinhold Messner, mengkritik peran influencer.
“Mereka menarik orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang pegunungan. Mereka datang dengan mobil, parkir di mana saja, dan mengambil foto, yang dibawa hanya kebisingan, kemacetan, dan agresi,” ujarnya.
Popularitas Seceda meningkat setelah muncul dalam iklan Apple 2023. Musim panas lalu, antrean panjang di stasiun kereta gantung viral di media sosial, diisi wisatawan dengan ponsel dan payung, bukan perlengkapan mendaki. Di Danau Sorapis, air biru kehijauan makin ramai difoto berkat geotagging.
“Gaya komunikasi tertentu kadang menjadi di luar kendali,” kata Wali Kota Cortina, Gianluca Lorenzi.
Ia menyebut di hari sibuk, hingga 2.000 orang bisa memadati area danau, mengurangi pengalaman pengunjung. Padahal Dolomit menyimpan nilai geologis tinggi dan fenomena enrosadira, di mana puncak gunung memendar merah muda dan oranye saat matahari terbit dan terbenam, menjadi daya tarik utama.
Pemerintah daerah kini mengkaji pembatasan lift ski, pengendalian lalu lintas pegunungan, hingga kuota parkir di lokasi populer seperti Danau Sorapis.
“Kita harus mengelola pariwisata agar kawasan ini tidak kolaps. Saat mengunggah sesuatu di media sosial, orang perlu sadar bahwa tidak semua tempat mampu menampung banyak pengunjung,” tegasnya.
Cortina pernah menjadi tuan rumah Olimpiade 1956 yang membawa dampak ekonomi jangka panjang. Namun kini pariwisata meningkat tiga kali lipat dalam satu dekade, sebagian besar dipicu promosi digital.
Studi The European House Ambrosetti memprediksi Olimpiade akan menarik tambahan 9 juta pengunjung ke lima provinsi tuan rumah hingga 2030.
Direktur Pusat Pendidikan Kewarganegaraan-POLITiS Tyrol Selatan, Thomas Benedikter, mengingatkan risiko krisis sumber daya. Hotel dan infrastruktur terkait pariwisata di sana sedikit banyak menyumbang dampak yang buruk bagi lingkungan.
“Pembuatan salju buatan dan konsumsi air hotel bersaing dengan pertanian dan rumah tangga. Hotel dan infrastruktur ski merusak lanskap, padahal itulah aset utama pariwisata,” katanya.
Warga pun mulai bereaksi. Erosi jalur pendakian dan sampah memicu protes, di Lembah Gardena, seorang petani memasang pintu putar berbayar 5 euro (Rp 98 ribu), sementara di Lembah Funes, sebuah gereja kecil ramai dikunjungi hanya untuk berfoto.
Influencer lokal Arianna Nutte mengakui peran media sosial dalam situasi ini. “Saya tidak percaya seratus influencer penyebab utama pariwisata berlebihan, banyak tekanan datang dari agen wisata. Tapi kami tetap ikut bertanggung jawab,” jelasnya.
Beberapa pemandu gunung juga meminta pengunjung tidak membagikan lokasi foto, bahkan Konten Kreator bernama Matteo Perani berhenti menyebut titik lokasi secara detail.
