Tak sekadar moda harian, Transjakarta melalui Open Top Tour mengajak menikmati Jakarta sebagai destinasi wisata urban yang berkelanjutan.
Transjakarta selama ini dikenal sebagai tulang punggung transportasi publik Jakarta. Namun, di balik fungsinya sebagai moda harian warga, Transjakarta juga berkembang menjadi sarana menikmati wajah ibu kota dari sudut pandang yang berbedaz bukan sekadar perjalanan, melainkan pengalaman wisata kota.
Melalui layanan Open Top Tour, Transjakarta menghadirkan konsep urban tourism yang mengajak masyarakat dan wisatawan menjelajah Jakarta dengan cara santai. Bus beratap terbuka ini membawa penumpang menyusuri kawasan-kawasan ikonik, menghadirkan sensasi melihat kota tanpa sekat kaca dan kemacetan yang melelahkan.
Direktur Utama PT Transjakarta Welfizon Yuza mengatakan layanan itu lahir dari keinginan mengangkat potensi wisata Jakarta.
“Kalau di Eropa, tujuan wisatanya pasti ibu kotanya. Tapi di Indonesia, orang masih berpikir Bali. Padahal Jakarta punya banyak sudut menarik kalau dinikmati dengan cara berbeda,” ujarnya dalam Dialog Refleksi 21 Tahun Transjakarta di Aula Pertemuan KPBB, Skyline Building, Jakarta, Senin (19/11/2026).
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Perjalanan dengan Open Top Tour bukan hanya soal berpindah tempat, melainkan menikmati ritme kota. Gedung-gedung bersejarah, pusat pemerintahan, hingga ruang publik yang sering terlewatkan dalam keseharian, menjadi bagian dari narasi perjalanan yang memperkenalkan Jakarta secara utuh.
Konsep ini juga sejalan dengan perubahan karakter pengguna Transjakarta. Mayoritas pelanggan berasal dari generasi Z dan milenial yang memiliki minat tinggi pada pengalaman berbasis kota dan transportasi publik. Bagi mereka, perjalanan bukan sekadar tujuan, tetapi juga cerita yang bisa dibagikan.
Selain memberi pengalaman baru, Open Top Tour juga menjadi bagian dari strategi pengembangan bisnis non-farebox Transjakarta. Layanan ini dirancang untuk memperluas fungsi transportasi publik, tidak hanya sebagai alat mobilitas, tetapi juga sebagai platform yang mendukung sektor pariwisata perkotaan.
Welfizon menegaskan bahwa pendekatan tersebut merupakan upaya menjadikan Transjakarta lebih dekat dengan masyarakat.
“Kami ingin Transjakarta tidak hanya dilihat sebagai bus yang mengantar orang bekerja, tetapi juga sebagai sarana menikmati kota,” katanya.
Dengan memanfaatkan transportasi publik sebagai medium wisata, Transjakarta juga mendorong cara berwisata yang lebih berkelanjutan. Penggunaan bus wisata berbasis layanan publik dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi sekaligus menekan emisi.
Di usia 22 tahun, Transjakarta terus berevolusi mengikuti kebutuhan kota dan warganya. Dari satu koridor sederhana hingga menjadi platform mobilitas dan wisata urban, Open Top Tour menjadi bukti bahwa transportasi publik dapat menghadirkan pengalaman baru dalam menjelajah Jakarta.
