Tepat di sebelah kanan Markas Komando Korps Marinir di Kwitang, Jakarta Pusat, sebuah komunitas diam-diam mengamati tantangan yang dihadapi para migran. Di sinilah, di sebuah gang kecil, kopi keliling atau ‘starling’ pertama kali bermula.
Kawasan komunitas ini telah menjelma menjadi titik pertemuan yang istimewa, tempat ribuan pengendara sepeda melewati para pedagang kopi keliling setiap sore. Di tengah lanskap yang dinamis ini, komunitas penjual kopi keliling yang dikenal dengan nama ‘starling’ (singkatan dari Starbucks Keliling) mulai berkembang.
Kawasan ini telah melintasi berbagai generasi dan semakin melekat sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di Jakarta. detikTravel menyambangi kawasan itu dengan bergabung dalam tur jalan kaki Jakarta Good Guide pada 5 Januari 2025.
Ida, salah satu pemilik usaha pasokan kopi lokal, menjelaskan bahwa kawasan ini telah dihuni oleh para pedagang sejak era Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubowono IX. Secara historis, batas wilayah ini hanya ditandai oleh bambu dan kawat berduri, sebuah kontras yang mencolok dengan pagar beton kokoh yang kini mendominasi pemandangan.
“Dari dulu ada izin dari orang-orang. Dari masih nyamannya Sri Sultan. Masih ada-ada surat dari Pak Sultan. Dulu di depan, nggak ada pagar. Masih aku sampai sini, belum ada pagar. Cuma ada pagarnya dari dulu itu cuma bambu. Ada setengah bambu, ada kawatnya, Kawat duri itu,” kata Ida kepada detikTravel.
Transformasi dagangan pun terjadi seiring waktu. Jika dulu para pedagang dari gang itu adalah penjual teh botol yang dilarang masuk ke area Monas, kini kopi saset menjadi primadona yang dibawa hingga ke pelosok Jakarta.
Sistem Getok Tular dan Ekonomi Masyarakat
Menariknya, rekrutmen pedagang di sini mengikuti pola yang unik. Arfianti, pemandu wisata dari Jakarta Good Guide, menyebutnya mirip dengan sistem MLM (Multi Level Marketing), tetapi dalam konteks kekeluargaan.
“Jadi mereka ini sistemnya kayak MLM gitu sih, maksudnya kayak diajakin gitu. ‘Kamu mau nggak ke Jakarta kerja sebagai pedagang kopi keliling?” kata Arfianti.
Pola ini terlihat jelas pada sosok Rudi, seorang pedagang asal Sampang, Madura, yang sudah melakoni profesi ini sejak tahun 2010. Rudi adalah satu dari sekian banyak warga Sampang yang merantau ke Kwitang untuk berdagang kopi.
Dalam operasionalnya, terdapat pembagian peran yang jelas, yakni penyedia stok atau bos. Posisi ini seperti yang ditempati Ida. Mereka menyediakan produk saset dan kebutuhan dagang lainnya.
Kemudian, pedagang keliling. Merekalah menggunakan modal sendiri untuk membeli produk dari penyedia, sedangkan sepeda biasanya menjadi aset pribadi mereka.
“Sistem usahanya itu, karyawan datang ke sini, kita yang kasih (sediakan produknya). Sepeda dia beli sendiri, kopinya dari kita,” kata Ida.
Ada pula sistem di mana karyawan ditugaskan khusus untuk membeli suplai ke pasar atau sistem bagi hasil bagi mereka yang baru memulai.
“Kalau yang ada bosnya, biasanya katanya ada tugas-tugasnya itu. Misalnya ada yang ditugasin beli supply, misalnya ‘Lo ke pasar, beli produknya.’ Beda-beda pembagiannya gitu ya. Tapi, kalau yang emang udah dari hulu ke hilir, ya udah, dia sendiri nih dimodalin. Misalnya dipinjemin sepeda, nanti ada yang bagi hasil juga,” ujar Arfianti.
Kehidupan seorang Starling dimulai saat matahari mulai condong ke barat. Rudi biasanya mulai bersiap sekitar pukul 17.00 WIB. Rute yang ditempuh tidak main-main, dari Kwitang, mereka mengayuh sepeda menuju Senayan, Kebon Jeruk, Kuningan, hingga Salemba.
“Magrib keluar, pulang subuh. Rute saya Senen kebanyakan. Kalau HI ini nih banyak yang ke sana. Saya emang Senen, Senayan, Kebon Jeruk,” ujar Rudi.
“Berangkat sore jam 17.00 WIB, pokoknya habis salat Ashar. Baliknya jam 02.00 atau jam sekitar jam 03.00, Subuh. Anak-anak Jakarta kan nongkrong sampai malam,” ujar Ida.
Pendapatan kotor mereka bisa mencapai Rp 500.000 per hari, sebuah angka yang cukup untuk bertahan hidup meski harus berhadapan dengan risiko penyitaan oleh Satpol PP.
Meskipun harus bertarung dengan lelah dan ketidakpastian di jalanan, komunitas ini tetap solid. Mereka membuktikan bahwa di balik setiap gelas kopi yang mereka seduh, ada sejarah panjang, sistem kerja yang rapi, dan mimpi besar yang dibawa dari desa menuju riuhnya Jakarta.
